Agar Anak Tak Mudah Terpengaruh Oleh Omongan Orang Lain

149
Membimbing anak agar tak mudah dipengaruhi orang lain.

Salah satu masalah yang kerap bikin kepala pening orang tua adalah anak mudah terpengaruh oleh omongan orang lain. Walau sebelumnya sudah dinasihati atau diperingatkan, tidak dipatuhi sama sekali. Justru anak malah mengikuti omongan orang yang belum tentu baik bagi dirinya.

Misalnya orang tua sudah melarang untuk tidak makan permen. Akan tetapi saat nenek memberi, anak menerima dan langsung memakannya. Begitu pula dengan saat di rumah teman, anak mengiyakan saja ajakan untuk bermain gim online. Padahal di rumah sudah ada aturan terkait screening time.

Baca juga: Menghadapi Anak Yang Suka Membantah

Meski kesannya sepele, tapi tidak pada dampaknya. Terutama relasi antara anak dan orang tua. Di satu sisi, orang tua jadi tidak mudah percaya pada anaknya dan terdorong untuk melakukan pemaksaan. Sementara dari sisi anak, selain tidak belajar untuk menghargai anjuran dari orang tua, juga rentan dengan berbagai efek buruk lainnya. Misalnya, anak tumbuh menjadi pribadi yang plin-plan, tidak punya pendirian atau prinsip, gampang termakan hasutan orang, mudah tidak enakan, mengobarkan kebahagiaan diri sendiri demi diterima oleh orang lain, dan sebagainya. Belum lagi ajakan ke arah kriminal, seperti penggunaan narkoba dan tawuran.

Jangan asal larang tanpa alasan

Karena itu, sekalipun di awal bertujuan melarang, namun jangan asal. Apalagi spontan melarang begitu saja, dengan gaya komunikasi satu arah. Ada baiknya, selalu sertakan alasan mengapa anak perlu untuk mematuhi.

Contohnya tadi tentang larangan permen. Perlu dihindari demi kesehatan gigi, supaya tubuh tidak kelebihan gula, dan terhindar dari zat-zat berbahaya. Jadi anak dapat memahami manfaat bagi dirinya sendiri.

Baca juga: Pentingnya Ajari Anak Mengenal Emosi

Selalu beri ruang diskusi

Selalu buka ruang diskusi. Posisikan anak sebagai lawan bicara yang seimbang. Buka pula kesempatan untuk bertanya dan mendebat. Memang akan membutuhkan waktu lebih panjang dan ekstra sabar. Namun proses diskusi yang hangat dan ramah bagi anak, akan menjadi modal penguat relasi. Hingga kemudian anak lebih mendengarkan orang tua dibanding orang lain.

Hargai pilihannya

Di samping itu selalu hargai pilihannya. Anak juga punya kepentingan dan harapan yang perlu diakomodasi. Tapi bagaimana bila ternyata pilihannya kurang sesuai di mata orang tua?

Diskusikan kembali, tanpa melabeli pilihan anak atau menyalahkan. Lebih baik, ganti dengan menjelaskan sisi kelebihan dan kekurangan opsi yang dipilih. Berikut tanggung jawab serta konsekuensi. Sehingga secara tak langsung anak belajar untuk memilih, memilah, dan berhati-hati atas setiap tindakan.

Punya kesepakatan

Barengi dengan membuat kesepakatan. Fungsinya sebagai panduan, tuntunan, dan batasan. Mana yang di luar sana boleh dan tidak boleh diikuti. Sehingga anak punya alarm pengingat saat bersinggungan dengan hal-hal yang sudah dibahas dalam kesepakatan.

Baca juga: Mengatasi Efek Glamour Dunia Gaul Anak

Bantu anak mengatasi tekanan

Kadangkala anak lebih mendengar omongan orang lain karena sifat bawaannya. Mudah tidak enakan, mudah cemas, khawatir, takut, dan lainnya. Oleh sebab itu, bantu anak mengatasi tekanan emosi yang ada dalam diri. Seperti mengajarkan untuk tidak perlu takut berkata tidak pada orang lain. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow instagram