Anak Dijauhi Teman di Sekolah, Ini Langkah Bijak yang Bisa Dilakukan Orang Tua

32

Bersosialisasi termasuk salah satu keterampilan yang perlu diasah. Ketika anak masuk usia sekolah dasar, dinamika pertemanan mulai terlihat. Rasa suka dan tidak suka mulai muncul di antara anak-anak. Mereka mulai memilih teman mana yang paling menyenangkan dan mana yang paling menyebalkan. Grouping mulai terjadi. Oleh karena itu, di tingkat SD, biasanya anak-anak sudah mulai berteman secara berkelompok, memilih sahabat, dan, sayangnya, juga memilih teman yang perlu dijauhi.

Dinamika pergaulan ini memang tak bisa dihindari. Akan ada masa di mana anak mengalami yang namanya penolakan dari beberapa temannya. Mengapa? Pada dasarnya anak-anak memang cenderung ingin bersama teman yang menurut mereka menyenangkan dan menjauhi yang mereka anggap “tidak nyambung”.

Ketika hal ini terjadi kepada anak Anda, Anda tak perlu panik atau terburu-buru mengambil alih permasalahan anak. Ada beberapa hal bijak yang bisa Anda lakukan dalam menemani anak melewati fase ini.

Ajari anak untuk mempertahankan diri

Anak yang tidak disukai teman-temannya—karena alasan apa pun, kemungkinan besar akan mengalami sedikit gesekan dengan teman-temannya itu. Malah, bisa jadi mengalami perundungan (bullying). Ketika hal ini mulai terjadi, Anda tak boleh meremehkan kondisi ini, tetapi juga tak disarankan untuk bereaksi terlalu frontal.

Dampingi anak dalam menghadapi situasi ini. Ingatkan anak untuk berani membela dirinya sendiri. Ketika perundungan terjadi, anak memiliki kekuatan untuk menepis semua gangguan itu, entah dengan cara melaporkan kepada guru, menolak dengan tegas ketika mulai terjadi kekerasan fisik, dan berani stand up ketika diejek oleh teman-temannya. Orang tua yang bijak tidak akan pernah mengajari anaknya untuk membalas perlakuan negatif yang dialami anak. Tanamkan kepada anak bahwa sikap tersebut bukanlah sikap yang benar.

Ajak anak peduli dengan dirinya sendiri

Bekali anak tentang self awareness, bahwa dirinya spesial dan memang patut disayang. Ajak anak untuk mencintai dirinya sehingga dia memiliki self esteem yang tinggi. Anak dengan tingkat kepercayaan diri tinggi dan memiliki self image yang positif tidak akan mudah terpuruk akibat ejekan teman-temannya.

Bagaimana caranya? Dengan tidak melakukan labelling kepada anak. Tiap anak unik sehingga orang tua perlu menyadari bahwa segala kekurangan dan kelebihan yang ada pada tiap anak adalah sebuah keunikan yang tak bisa dibandingkan dengan anak lain. Hindari kalimat-kalimat menjatuhkan, seperti “Kamu sih cengeng, jadi diganggu terus,” atau “Lemah banget, harusnya lawan dong!” hanya akan membuat anak merasa yakin bahwa dirinya memang cengeng dan lemah. Self image-nya pun akan negatif. Kondisi ini akan semakin menyulitkan anak untuk menghadapi masalah berteman di sekolah.

Anak yang memiliki orang tua yang menyayangi mereka apa adanya cenderung akan memiliki self image yang baik dan tak memiliki masalah berarti di sekolah.

Ajari untuk memiliki mental yang tangguh

Orang tua masa kini cenderung memiliki keinginan untuk membuat anak-anak mereka merasa nyaman. Anak dihindarkan dari kesulitan-kesulitan karena kesulitan dianggap sebagai hal yang berbahaya untuk anak. Kondisi ini, di masa depan, akan membuat anak-anak tersebut menjadi seorang dewasa dengan daya juang rendah dan rentan stres ketika menghadapi sebuah masalah.

Praktisi Pendidikan Charlotte Priatna, yang sekaligus founder Sekolah Athalia yang terletak di Villa Melati Mas, Serpong, dalam video yang ditayangkan oleh Tanam Benih, menegaskan pentingnya membentuk ketangguhan mental pada anak. Membentuk mental tangguh bukanlah tugas sekolah. Ini adalah tugas orang tua. Ketika anak menghadapi masalah di sekolah, orang tua perlu memilah, mana yang memang harus dihadapi sendiri oleh si anak, mana yang memang harus diintervensi. Bekali anak dengan dasar-dasar bertahan hidup. Biarkan anak mengetahui bahwa ada saatnya dia harus menghadapi masalahnya sendiri. Anda sebagai orang tua pun harus menahan diri untuk tidak terlalu cepat ikut campur.

Berikan pengertian kepada anak bahwa relasi dengan teman tak selamanya mulus. Ketimbang memusingkan teman yang tak menyukainya, ajak anak untuk fokus kepada teman-teman yang baik kepadanya dan fokus kepada pelajaran di sekolah.

Penulis: Krista Rai

Foto: Jcomp/Freepik

Follow Instagram @etalaseserpong