Anak Tantrum, Lakukan Langkah-Langkah Ini!

26

Dalam perkembangannya, anak akan mengalami fase perkembangan emosi, yang biasanya tumbuh pada usia 0–5 tahun. Dalam rentang waktu ini, otak anak sedang mengalami perkembangan yang sangat pesat, salah satunya bagian amygdala yang mengatur emosi.

Oleh karena itu, anak di usia tersebut terlihat sangat pesat perkembangan emosinya. Dari seorang bayi yang hanya kenal ekspresi menangis, anak akan belajar untuk tertawa, terkejut, dan ekspresi kompleks lainnya, seperti keheranan, kekesalan, kemarahan, ketakutan, dan lain sebagainya. Tak heran, anak-anak usia balita kerap mengalami tantrum. Tantrum ini merupakan kondisi yang wajar terjadi pada tiap anak di bawah usia 5 tahun karena merupakan salah satu proses perkembangannya.

Tantrum, untuk banyak orang tua, merupakan kondisi yang sangat menantang. Khususnya ketika anak tantrum di tempat umum karena akan memancing orang yang ada di sekitar untuk mengamati kemarahan si anak.

Jika Anda salah satu dari orang tua yang sedang kesulitan menangani anak tantrum, kami memaparkan lima tips menenangkan anak tantrum, yang dipaparkan oleh Eleonora Lily, S.Psi dalam video yang diunggah di akun Instagram Tanam Benih.

Silent attention

Anak-anak yang sedang mengalami tantrum pada dasarnya sedang merasakan luapan perasaan yang sangat besar, yang dia belum mampu kenali dan kendalikan. Oleh karena itu, perasaan tersebut dia luapkan menjadi sebuah energi kemarahan yang besar sebagai wujud dari rasa frustrasi yang dirasakannya.

Dalam kondisi seperti ini, satu-satunya yang dibutuhkan oleh anak, yaitu kasih dari orang tuanya. Menghadapi anak tantrum tak seharusnya dengan reaksi marah dan berakhir dengan hukuman. Sebaliknya, tahan diri Anda untuk terpancing dan pilihlah untuk memberikan silent attention.

Perhatian dari jauh ini Anda lakukan untuk memberikan waktu kepada anak untuk menenangkan perasaannya. Pastikan anak tidak melakukan tindakan destruktif dan menyakiti diri sendiri ketika sedang tantrum. Jangan pernah meninggalkan anak yang sedang tantrum sendirian karena dia akan mengingatnya seumur hidup sebagai wujud dari penolakan perasaannya.

Menamai emosi

Sebagai manusia yang masih belajar, anak butuh diajari beberapa skill. Salah satunya, yaitu skill pengendalian diri. Dari mana skill ini bisa didapatkan? Dari memahami hal-hal yang terjadi di dalam dirinya, khususnya emosi yang sedang dirasakannya. Ketika anak tantrum, saatnya mengajarkannya perihal emosi yang sedang dirasakannya. Berikan konfirmasi bahwa yang dirasakannya adalah ekspresi marah, sedih, kecewa, dan lain sebagainya.

Ketika anak sudah terbiasa menamai emosinya, intensitas tantrumnya bisa berkurang dan dia sudah memiliki kemampuan untuk mengomunikasikan perasaannya menggunakan kata-kata.

Marlene, salah satu staf Sekolah Athalia, yang juga merupakan warga Villa Melati Mas, mempraktikkan metode ini kepada kedua anaknya. “Saat anak-anak saya belum sekolah, saya memperkenalkan emosi kepada mereka melalui media flash card. Jadi, ada wajah manusia yang bisa diganti-ganti ekspresinya. Dari sana mereka belajar bahwa ada ekspresi-ekspresi tertentu untuk mewakili emosi-emosi yang dirasakan. Cara ini cukup efektif karena emosi anak-anak bertumbuh dengan sangat baik. Sekarang, mereka tak lagi tantrum ketika mengalami kegelisahan. Mereka utarakan perasaan mereka, lengkap dengan ekspresinya,” ujar Marlene sambil tertawa.

Menulis

Ketika Anda berada di area publik, pastinya Anda berharap tantrum anak Anda bisa berakhir secepat mungkin. Anda bisa mengajak anak untuk melakukan aktivitas lain sebagai pengalihan. Misalnya, ketika anak tantrum karena tidak boleh minum susu, Anda bisa mengambil catatan kecil dan mencatatkan apa saja keinginan yang sedang dipendam oleh anak. Catat tiap permintaan, tanpa terkecuali. Ambil kepercayaan anak dengan cara membuat mereka tahu bahwa Anda peduli dengan dirinya, khususnya ketika sedang dalam kondisi emosi yang tidak stabil.

Mengajak berkhayal

Selain mengajak anak untuk menyaksikan “catatan kecil” Anda, Anda kemudian bisa “memancing” anak agar perasaan negatifnya teralihkan. Misalnya, Anda bisa mengisahkan dongeng atau kisah-kisah menarik lainnya. Biarkan anak ambil peran dalam menyusun kerangka dongeng tersebut. Jika Anda berhasil menggali imajinasi anak, suasana hatinya akan berangsur membaik.

Menggambar

Ada beberapa anak yang memiliki sifat unik. Misalnya, tak akan berhenti tantrum sebelum disodorkan permintaannya. Tentu, ini bukan keputusan yang bijak karena sebagai orang tua, kita juga harus mengajarkan anak untuk patuh terhadap otoritas di rumah, menjadi anak yang tangguh, dan mandiri.

Jadi, ketika terjadi kondisi tantrum, Anda bisa perlahan mengeluarkan alat gambar. Ajak anak untuk mau terlibat dalam proses menggambar ini. Tak melulu harus menghasilkan gambar yang bagus, tetapi hanya untuk pemancing agar dia mengalihkan perasaannya untuk urusan lainnya.

Penulis: Krista Rai

Foto: Jcomp/Freepik

Follow Instagram #etalaseserpong