ANAM CARA

66

Oleh: Naufal, Kevin, dan Anggara

๐—ก๐—ฎ๐˜‚๐—ณ๐—ฎ๐—น ๐—ฅ๐—ถ๐—ณ๐—ธ๐˜† ๐—ž๐—ถ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฟ๐—ฎ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฎ๐—บ๐—ฏ๐—ถ๐—น ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ Twitter @lokalantheboyz

๐—”๐˜†๐˜†๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐— ๐—ฒ๐—น๐—ผ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฆ๐˜‚๐—บ๐—ฎ๐—ป๐˜๐˜†๐—ผ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ผ๐—น๐—ฒ๐—ต ๐—ž๐—ถ๐—บ ๐—ฆ๐—ผ๐—ต๐˜†๐—ฒ ๐—”๐—ด๐—ฎ๐˜€๐˜๐—ฎ ๐—–๐—ต๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐—ผ๐—ฝ๐—ต๐—ฒ๐—ฟ ๐—ฆ๐˜‚๐—บ๐—ฎ๐—ป๐˜๐˜†๐—ผ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ผ๐—น๐—ฒ๐—ต ๐—•๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—–๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐˜๐—ฟ๐—ฎ๐˜† ๐—ž๐—ถ๐—ฑ๐˜€

๐ท๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘š ๐˜ฉ๐‘–๐‘‘๐‘ข๐‘ ๐ด๐‘ฆ๐‘ฆ๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘Ž, ๐‘๐‘ข๐‘š๐‘Ž ๐‘Ž๐‘‘๐‘Ž ๐‘‘๐‘ข๐‘Ž ๐‘œ๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘ฆ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘๐‘–๐‘ ๐‘Ž ๐‘๐‘ข๐‘Ž๐‘ก ๐‘‘๐‘–๐‘Ž ๐‘๐‘ข๐‘˜๐‘Ž ๐‘š๐‘ข๐‘™๐‘ข๐‘ก ๐‘‘๐‘Ž๐‘› ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘๐‘–๐‘๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘Ž. ๐‘Œ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘ก๐‘Ž๐‘š๐‘Ž, ๐ด๐‘”๐‘Ž๐‘ ๐‘ก๐‘Ž ๐ถ๐˜ฉ๐‘Ÿ๐‘–๐‘ ๐‘ก๐‘œ๐‘๐˜ฉ๐‘’๐‘Ÿ ๐‘†๐‘ข๐‘š๐‘Ž๐‘›๐‘ก๐‘ฆ๐‘œ, ๐‘˜๐‘Ž๐‘˜๐‘Ž๐‘˜ ๐‘ ๐‘ข๐‘™๐‘ข๐‘›๐‘”๐‘›๐‘ฆ๐‘Ž, ๐‘‘๐‘Ž๐‘› ๐‘๐‘Ž๐‘ข๐‘“๐‘Ž๐‘™ ๐‘…๐‘–๐‘“๐‘˜๐‘ฆ ๐พ๐‘–๐‘Ž๐‘›๐‘‘๐‘Ÿ๐‘Ž, ๐‘ ๐‘Ž๐˜ฉ๐‘Ž๐‘๐‘Ž๐‘ก๐‘›๐‘ฆ๐‘Ž ๐‘‘๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘– ๐‘‡๐พ.

Aya, begitu gadis manis ini akrab disapa, jarang sekali mengekspresikan perasaannya pada orang lain. Aya jarang bicara, nggak ada yang tau perasaan yang dirasakan Aya, kecuali Naufal dan Chris, kakak laki-laki Aya. Chris sekarang sudah nggak tinggal di Indonesia. Semenjak orang tua Aya dan Chris bercerai, 6 tahun yang lalu, Aya tinggal sama papa, sememntara Chris ikut mama ke Australia dan tinggal di sana bersama suami baru mama. Pasca perceraian kedua orangtuanya, Aya jadi semakin tertutup dan pendiam. di masa-masa terberat itulah peran Naufal sebagai pilar yang membuat Aya bertahan hidup begitu terlihat.

setelah kedua orang tuanya bercerai, Aya kerap kali dititipkan di rumah Naufal lantaran papa harus pulang malam dan rumah mereka nggak ada pembantu. Kedua orang tua Naufal pun jadi akrab juga dengan Aya. Mereka udah nganggep Aya seperti anak mereka sendiri. Tak jarang Aya berakhir nginep dirumah Naufal karena papa lupa jemput atau emang kerja sampai subuh. Di rumah Naufal ada piano. Piano itulah yang jadi buku harian Aya. Kalau dia nggak mau memberatkan Naufal dengan apa yang ada dalam pikirannya, Aya akan duduk di piano, memainkan lagu-lagu yang dikarangnya sebagai salah satu cara dirinya mencurahkan isi hatinya.

Meskipun saat ini Aya dan Naufal merantau, Aya dan Naufal tidak terpisahkan. contohnya, sore ini. seusai kelas, Naufal bergegas menjemput Aya di gedung FIB untuk menunggu Aya selesai kelas. Aya yang sudah mengenali sosok sahabatnya itu segera berlari menghampiri Naufal.

‘Nih, tadi siang sempet balik ke kosan bikin sandwich. lu pasti belom makan kan?’ Naufal menyerahkan kantung ๐’›๐’Š๐’‘๐’๐’๐’„๐’Œ ๐’“๐’†๐’–๐’”๐’‚๐’ƒ๐’๐’† yang berisi sandwich telur buatannya pada sang gadis berambut sebahu di hadapannya.

‘Makasih,’ jawab Aya sembari menerima kantung itu dan membuka isinya. ‘Finally,’ tukasnya sembari menggigit sandwich itu dengan senyum merekah di wajahnya.

‘Pasti tadi lupa makan lagi? emang tugas lu sebanyak itu, Ay?โ€ tanya Naufal sembari berjalan beriringan dengan sahabatnya itu.

‘Nggak sih. Tadi gue lupa makan soalnya ada rapat,’ jawab Aya sambil mengunyah makanannya. ‘sandwichnya enak, fal.’

Naufal tersenyum. ‘Ya enak lah siapa dulu yang bikin,’ ujarnya sembari membusungkan dadanya.

‘Nggak jadi enak kalo gitu,’ Aya terkekeh pelan.

‘Ah lu mah!’ Naufal pura2 ngambek.

‘Jelek banget sih kalo ngambek,’ Aya menghabiskan sandwichnya sembari mencubit pipi Naufal. gemas akan tingkah sahabatnya yang suka pura-pura ngambek.

Mereka berjalan melewati selasar FIB dan tiba-tiba Aya menghentikan langkahnya dan menarik lengan Naufal supaya cowok itu berhanti. ‘Fal, lewat jalan lain bisa ga? gue nggak mau ngelewatin atau papasan sama orang itu,’ lirih Aya.

‘Kenapa?’ Naufal menatap Aya bingung.

‘Itu Arrayan anak Sastra Jepang tingkat 2. Gue ga mau ketemu dia, takut,’ Wajah Aya memucat. Tanpa Aba-aba, Naufal segera memutar arah mereka berjalan kembali ke lobby dan mencari jalan keluar lewat pintu belakang gedung FIB.

Kenapa Aya takut sama Arrayan? Arrayan ini ga suka sama Aya yang pendiam banget, cenderung nggak pernah bersuara saat kerja kelompok. Dan kerap kali, Arrayan menggoda atau mengganggu Aya. Aya nggak nyaman, tapi nggak pernah bisa mengungkapkan semua itu.

‘Ada apa antara lo sama dia, Aya?’ tanya Naufal bingung. Aya hanya menggelengkan kepalanya singkat.

‘Bukan hal besar, Fal,’ jawab Aya sembari membuang muka dan pura-pura menyisir sisi seberang komplek kampus mereka, tempat biasa mereka berdua nongkrong.

‘Kalo bukan hal besar, lo ga bakal senggak nyaman tadi, Gue nggak baru ngenal lo, Ayyara,’ timpal Naufal sembari menghentikan langkahnya dan menahan langkah Aya dengan menarik tangan sang dara pelan.

‘It’s okay, Fal.’ Kilah Aya. Naufal tau Aya berbohong. Aya nggak terlalu terbuka soal kehidupan kampusnya.

Dia nggak mau Naufal menjadikan event in untuk overthinking dan memusatkan pikirannya untuk jadi ksatria buat dirinya yang lemah ini. ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ˆ๐˜บ๐˜บ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜•๐˜ข๐˜ถ๐˜ง๐˜ข๐˜ญ. Kalau dia masih kuat, dia akan menahan dirinya buat cerita ke Naufal.

‘๐™ˆ๐™–๐™–๐™›๐™ž๐™ฃ ๐™œ๐™ช๐™š, ๐™œ๐™ช๐™š ๐™ฉ๐™š๐™ง๐™ก๐™–๐™ก๐™ช ๐™จ๐™–๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™จ๐™–๐™ข๐™– ๐™ก๐™ช, ๐™๐™–๐™ก. ๐™œ๐™ช๐™š ๐™ฃ๐™œ๐™œ๐™–๐™  ๐™ข๐™–๐™ช ๐™ก๐™ช ๐™ฉ๐™š๐™ง๐™ช๐™จ ๐™ข๐™š๐™ข๐™ช๐™จ๐™–๐™ฉ๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™ฅ๐™ž๐™ ๐™ž๐™ง๐™–๐™ฃ ๐™ก๐™ค ๐™จ๐™–๐™ข๐™– ๐™ฅ๐™ง๐™ค๐™—๐™ก๐™š๐™ข ๐™œ๐™ช๐™š ๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™จ๐™–๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฉ ๐™ช๐™ฃ๐™ฃ๐™š๐™˜๐™š๐™จ๐™จ๐™–๐™ง๐™ฎ ๐™ž๐™ฃ๐™ž,’ Aya berucap dalam hatinya sembari menggenggam tangan Naufal sedikit lebih erat. dan menatap kedua tangan itu lekat-lekat.

‘Fal, gue mau ke toko musik dong,’ pinta Aya. Ini terapi Aya kalau lagi punya banyak pikiran. dia akan tes pencet-pencet piano di toko musik. Permintaan ini langsung disambut anggukan singkat dari pemilik nama Naufal Rifky Kiandra. Biasanya, seperti nama tengahnya, Aya lebih mudah mengungkapkan kegundahannya lewat melodi dan dentingan piano.

Jadilah mereka berdua memasuki sebuah toko alat musik dan duduk di hadapan sebuah grand piano putih berpelitur mengkilap. ๐‘บ๐’•๐’†๐’Š๐’๐’˜๐’‚๐’š ๐’‚๐’๐’… ๐’”๐’๐’๐’”, begitu tulisan emas yang terukir di penutup piano itu. Piano mahal yang tak bisa dimiliki oleh anak rantau seperti kedua muda-mudi yang tengah duduk di depan piano itu. dalam hitung detik, tangan Aya sudah menari di atas tuts piano mahal itu. dan melodi sedih nan indah terdengar dari dawai piano itu. Bukan lagu klasik yang biasa diajarkan di sekolah atau kursus musik. Bukan pula lagu pop yang biasa didengar di radio. Ini lagu karangan Aya. lagu yang berisi seluruh curhat yang tak pernah keluar dari mulutnya.

Saking asiknya Aya memainkan lagu karangannya, kedua sekawan ini nggak sadar kalau dari tadi orang berdatangan masuk ke toko piano itu untuk mendengarkan permainan piano Aya.

‘Ay, banyak yang denger suara hati lo,’ Naufal tersenyum sembari membelai rambut sahabatnya. ‘Lo selalu bisa curhat sama gue atau cerita lewat musik. make yourself heard, Melodi.’ bisik Naufal.

 

Foto ilustrasi: Pixabay.com/fancycrave1

Follow Instagram @etalaseserpong