Atasi Impulsive Buying bagi Si Pehobi Belanja

252

Diskon, diskon, diskon!!! Berburu diskon memang aktivitas menyenangkan karena potongan harga yang menggiurkan. Namun, jika tidak berhati-hati, kita bisa terjebak impulsive buying, lho. Wah, jangan sampai, ya.

Saat musim diskon, tak jarang kita disuguhi produk bundling dengan harga miring. Bukan itu saja, “hantu diskon” ini juga sering muncul dalam wujud flash sale, lho. Biasanya, flash sale muncul pada waktu-waktu tertentu dengan durasi singkat. Namun, justru karena durasi singkat, orang rela menunggu flash sale tiba untuk berbelanja sebanyak-banyaknya. Walaupun, sering kali orang tidak membeli karena butuh, tetapi karena “sedang diskon”. Kebiasaan berbelanja cepat inilah yang akhirnya membuat seseorang jadi impulsif ketika membeli sesuatu. Istilah lainnya, impulsive buying. Simak penjelasannya sebagai berikut.

Impulsive buying sering diartikan sebagai pengeluaran tidak terencana untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak kamu butuhkan. Para impulsive buyer biasanya akan menyesal karena menghabiskan uang untuk membeli produk yang tidak dibutuhkan. Penyebabnya bermacam-macam, antara lain sopaholic (senang berbelanja), berbelanja karena mood, FoMO (takut ketinggalan zaman alias kudet), pengabdi diskon, dan kebiasaan lainnya. Sebelum kebiasaan buruk ini menguras tabunganmu, simak tips berikut supaya kamu tidak impulsif lagi ketika berbelanja, ya.

Kebutuhan atau keinginan?

Identifikasi setiap barang yang hendak kamu beli, apakah masuk kategori keinginan atau kebutuhan? Coba tanyakan beberapa pertanyaan pada dirimu sendiri, apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan? Apakah senilai dengan uang yang kamu keluarkan? Seberapa sering kamu akan menggunakannya? Apakah setelah membeli barang tersebut, uangmu masih cukup untuk memenuhi kebutuhan ke depan?

Seperti yang dilakukan Elza, saat ditemui di Aeon Mall BSD. “Saya punya kebiasaan membeli semua warna untuk jenis barang yang sama, misalnya kalau saya beli sepatu berwarna cokelat, kemudian saya ingat ada baju yang tidak cocok dengan warna tersebut, akhirnya saya membeli warna lain yang cocok dengan bajunya. Begitu terus. Sampai saya sadar, saya menghabiskan banyak uang hanya untuk sebuah penampilan. Dan akhirnya banyak barang-barang tidak terpakai.”

Buat anggaran keuangan dan daftar belanja

Ketika menerima gaji, langsung buat daftar belanja kebutuhan bulanan secara rinci. Anggarkan keuangan kamu untuk kebutuhan pokok, transportasi, tabungan, dan berbelanja barang yang kamu inginkan. Prioritaskan untuk membeli sesuatu yang paling kamu butuhkan. Coba lebih tegas pada dirimu sendiri agar tidak berbelanja di luar batas yang sudah dianggarkan. Jangan sampai jika berbelanja melampaui batas, kamu mengambil jatah anggaran kebutuhan lain.

Beri hadiah untuk diri sendiri

Memberi hadiah sebagai ucapan terima kasih terhadap diri sendiri sangatlah penting. Daripada berbelanja barang yang tidak terlalu kamu butuhkan, lebih baik membuat daftar barang-barang yang paling kamu inginkan sebagai hadiah untuk dirimu sendiri. Kemudian, buatlah target waktu dalam membelinya.

Sebagai contoh, kamu sangat menginginkan suatu barang. Catatlah di notes, kemudian tempel di tempat yang sering kamu lihat. Lalu, buatlah target pembelian. Misalnya, kamu bisa membeli barang tersebut setelah 30 hari sejak kali pertama kamu menulis ingin barang tersebut. Aturannya, dalam waktu 30 hari masa tunggu, kamu tidak boleh membeli barang apa pun, kecuali barang-barang yang memang masuk anggaran kebutuhan bulanan.

Hal ini bisa diterapkan pada semua barang yang kamu inginkan atau rencana masa depan. Namun, tidak semua barang bisa ditargetkan dapat dibeli dalam 30 hari. Semakin mahal harga barang yang kamu inginkan, semakin lama kamu buat target masa tunggunya.

Jangan berbelanja dalam keadaan emosional

Memutuskan berbelanja dalam keadaan emosional bukanlah ide bagus. Misalnya, ketika stres atau penat dalam pekerjaan, kamu menyalurkannya dengan berbelanja. Padahal, ada banyak cara untuk menghilangkan stres tanpa melibatkan uang.

Seperti dikutip dari lifehack.org, berbelanja saat stres menyebabkan lingkaran setan. Jika kamu stres maka kamu akan berbelanja. Kemudian, kamu akan stres karena menghabiskan uang untuk berbelanja, karena stres lagi, kamu akan berbelanja lagi. Jadi kamu akan membeli banyak barang. Begitu seterusnya. Cobalah mencari pengalihan lain untuk mengobati stresmu, seperti mendengarkan musik, bermain dengan hewan peliharaan, menonton, dan lain-lain.

Jangan berbelanja dalam keadaan lapar

Memutuskan beberlanja dalam keadaan lapar bisa mengakibatkan pengeluaran tidak terkontrol. Hal ini menimbulkan impulsive buying. Kondisi lapar sangat memengaruhi orang saat berbelanja. Selain itu, kondisi lapar membuat orang sulit berpikir jernih dan memutuskan sesuatu dalam waktu singkat. Maka, sebelum memutuskan untuk berbelanja, ada baiknya untuk mengisi perut terlebih dahulu, ya.

Beri waktu 24 jam sebelum membeli barang

Biasakan untuk selalu berpikir ulang tiap kali melihat diskon atau flash sale. Beri dirimu waktu berpikir selama 24 jam sebelum membeli. Buatlah daftar pertanyaan dalam diri sendiri. Biasanya, semakin lama kamu berpikir, keinginan berbelanja akan semakin berkurang. Cara ini ampuh untuk mengubah pola berpikir kamu ketika berbelanja.

Batasi saldo dompet digital, bijak berutang, dan pegang uang tunai secukupnya

Kemudahan teknologi keuangan digital membawa banyak manfaat baik, tetapi di satu sisi juga membentuk kebiasaan kurang bagus. Pada zaman serba cashless ini, banyak uang beredar dalam bentuk digital dan membuat kamu lebih mudah untuk mengisinya berulang kali. Kadang-kadang, tanpa perhitungan yang bijak, saldo dalam dompet digitalmu sudah habis tanpa disadari. Belum lagi, banyak godaan promo pembelian menggunakan uang elektronik. Namun, meski banyak promo, jika kamu berbelanja tidak sesuai kebutuhan maka pengeluaran akan tetap banyak.

Sisi buruk lain dari perkembangan teknologi keuangan digital saat ini juga membuat terbentuknya kebiasaan berutang. Pemberian fasilitas kredit yang begitu mudah dari penyedia layanan fintech secara tidak langsung membentuk pola pikir konsumtif, seperti “yang penting beli dulu, bayar nanti”. Seseorang menjadi lebih mudah belanja menggunakan metode pembayaran kredit karena limit besar dan proses lebih mudah bila dibandingkan dengan kredit konvensional yang diberikan oleh bank. Perlahan, ubahlah pola pikir untuk membeli sesuatu dengan berutang, ya. Sebaiknya, batasi uang dalam dompet digital dan bawa uang tunai secukupnya ketika berbelanja.

Kurangi pergi ke mal atau membuka situs belanja online

Berbelanja kebutuhan ke mal atau melalui situs online tentu bukan hal yang salah. Akan tetapi, jangan pergi ke mal atau mengunjungi situs berbelanja online sebagai pengisi waktu luang. Meski niat awalmu hanya “melihat-lihat”, terkadang ada saja godaan yang akan kamu temukan dan akhirnya kamu tertarik untuk membelinya. Coba untuk mematikan notifikasi aplikasi belanja online di ponselmu supaya kamu tidak tergiur promo-promo yang ditawarkan.

 

Tips ini boleh dicoba untuk kamu yang punya kebiasaan belanja secara impulsif. Berbelanja boleh saja, asal kamu bisa mengendalikannya. Ingat ya, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, lho. Kendalikan impulsive buying kamu, niscaya saldo tabungan kamu akan berterima kasih padamu! Selamat mencoba, ETALASER!

 

Penulis: Linda Irawati

Foto ilustrasi: Pressfoto/Freepik

Follow Instagram: @ETALASESERPONG