Bumi Manusia: Perjuangan Pribumi di Masa Penjajahan Kolonial

24

Bumi Manusia merupakan novel pertama dari Tetralogi Buru yang merupakan karya monumental Pramoedya Ananta Toer. Novel ini ditulis sejak Pram dibuang ke Pulau Buru yang kemudian dia kumpulkan kembali sekeluarnya dari penjara.

Novel-novel Pram tak disukai oleh Pemerintah Orde Baru karena dianggap menyimpan pesan kebangkitan Marxisme-Leninisme. Semua novel dalam Tetralogi Buru diproduksi terbatas dan kemudian langsung dilarang beredar di Indonesia. Namun, novel-novel ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan di beberapa negara.

Usia Bumi Manusia saat ini 39 tahun. Selama itu pula, kisah-kisah Minke dan Nyai Ontosoroh dalam perjuangan mereka melawan kolonialisme terus bergaung di telinga banyak orang. Minke dan Nyai Ontosoroh bukan lagi hanya sekadar tokoh fiktif dalam sebuah novel. Mereka adalah simbol, mereka adalah kekuatan, yang mendorong banyak orang untuk menyimpan api perjuangan di era Orde Baru.

Adaptasi Film

Tiga puluh sembilan tahun adalah waktu yang sangat lama sampai akhirnya Bumi Manusia mendapatkan “giliran” untuk divisualisasikan. Tak sembarang orang berani menghidupkan tokoh-tokoh di dalam kisah ini. Hanung Bramantyo menyimpan mimpi tersebut sejak lama. Penolakan yang diberikan Pram beberapa tahun lalu tak menyurutkan mimpinya untuk membawa Bumi Manusia ke layar lebar. Dan, tahun ini, Hanung menuai hasil dari jerih payahnya.

Layaknya film-film yang diangkat dari novel, Bumi Manusia memikul beban ekspektasi besar dari para pembaca setia novelnya.

Bagi pembaca novel Bumi Manusia, Pram adalah sosok fenomenal dengan kekuatan kata-katanya yang terasa magis. Mereka yang mengagungkan novel ini mungkin akan mendekap erat buku mereka, berharap-harap cemas: bagaimana cara Hanung memvisualisasikan kalimat-kalimat Pram yang begitu magis?

Pemilihan Dilan sebagai Minke pun sempat membuat banyak orang—khususnya mereka yang sangat mencintai karya-karya Pram—mengernyitkan dahi. Namun, Hanung tahu betul tentang apa yang sedang dikerjakannya. Iqbal Ramadhan dianggap bisa mewakili generasi Z yang sekarang mungkin sangat jauh dari karya-karya sastra Indonesia, untuk mau mengambil jeda sejenak dari hiruk-pikuk dunia, dan menoleh kembali ke masa lalu Indonesia, ketika kemerdekaan masih menjadi sebuah mimpi.

Penggarapan yang serius

Hanung tak pernah setengah-setengah dalam membuat sebuah film. Buktinya, film ini digarap dengan set yang “sangat niat”. Kostum, pemeran pembantu yang kebanyakan orang Belanda, memberikan “nyawa” kepada film ini. Sinematografi film ini sudah lebih dari cukup dan sangat memuaskan, walau tak masuk kategori istimewa.

Layaknya film-film yang diangkat dari novel, Bumi Manusia memikul beban ekspektasi besar dari para pembaca setia novelnya. Beberapa pencinta Bumi Manusia terang-terangan menyatakan ragu untuk menonton film ini. “Saya belum memutuskan akan menonton film ini atau tidak. Saya begitu terkesima dengan novel Bumi Manusia sampai tak ingin kesan itu luntur dari pikiran saya. Tapi, kalau saya akhirnya menonton, mungkin hanya untuk memuaskan rasa penasaran tanpa ada keinginan untuk membandingkannya,” ujar Sylvia, warga BSD.

Sementara itu, Anggi, warga Alam Sutera, sudah menonton film ini dan merasa “cukup”. “Ya, karya Pram terlalu besar untuk divisualisasikan. Ada beberapa adegan yang terlalu kompleks. Saya bisa paham itu. Untuk film yang berdiri sendiri, ini salah satu karya Hanung yang membanggakan.”

Penulis: Krista Rai

Foto: Falcon Pictures

Follow Instagram @etalaseserpong