Cintai Diri dengan Hindari Kanker Serviks

39
Mencegah kanker serviks sejak dini.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), kanker serviks merupakan jenis kanker nomor empat yang paling sering menyerang wanita dan mematikan. Selain itu, kanker ini paling banyak ditemukan di negara berkembang.

Padahal ilmu kesehatan telah menemukan penyebabnya, yaitu infeksi HPV (Human Papillomavirus) beserta cara pencegahan, sekaligus imunisasinya. Seharusnya dengan begitu penyakit kanker serviks dapat ditekan jumlah penderitanya.

“Sayangnya kesadaran wanita untuk melakukan screening kanker serviks dengan melakukan papsmear di Indonesia masih belum setinggi negara maju. Makanya masih ditemukan penderita kanker serviks,” ujar dr. Rudiyanti, Sp.OG, spesialis obstetri dan ginekologi RS Premier Bintaro.

Cegah dengan Papsmear

Harus diakui, harga untuk melakukan papsmear tidaklah murah. Namun dibanding dengan biaya pengobatan kanker serviks tentu sangat jauh lebih murah. “Karena itu bagi wanita yang telah melakukan hubungan seksual sebaiknya melakukan papsmear setahun sekali. Bila telah melakukan imunisasi virus HPV, bisa dilakukan tiap tiga tahun,” tutur dr. Rudiyanti.

Papsmear bertujuan untuk melihat apakah ada perubahan sel menjadi abnormal pada serviks. Ada derajat keabnormalan sel, yaitu 1 hingga 3. “Bila masih pada angka 1 hanya perlu diobservasi rutin setiap 6 bulan, apakah keabnormalan bertambah. Bila sudah pada derajat 2 atau 3 maka perlu diberi tindakan agar tidak berubah menjadi kanker,” kata dr. Rudiyanti.

Selain itu, kini juga ada teknik tinpret untuk mendeteksi apakah ada virus HPV pada tubuh. “Bila ternyata hasilnya negatif, artinya tidak terdeteksi virus HPV di tubuh kita, screening bisa diulang tiga tahun lagi. Tidak perlu tiap tahun,” jelas dr. Rudiyanti.

Saling Setia

Sampai saat ini, penelitian menunjukkan virus HPV 95% ditularkan lewat hubungan seksual. Karena itu, hubungan seksual yang sehat, artinya hanya dengan satu orang, merupakan cara pencegahan yang efektif.

“Meskipun sudah melakukan imunisasi HPV, bukan berarti tidak akan terkena kanker serviks bila melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan. “Imunisasi untuk meningkatkan kekebalan. Bila virus yang masuk lebih banyak, lebih ganas, ia bisa kena kanker serviks juga. Karena itu, perempuan harus mencintai dirinya sendiri. Rutinlah melakukan screening kanker serviks setiap tahun. Karena pada akhrinya yang menderita adalah perempuan,” tegas dr. Rudiyanti. (ADV)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram: @etalaseserpong