Intip Sisi Gelap Dari Toxic Positivity

74
Waspadai toxic positivity.

Sudahkah Anda mendengar istilah toxic positivity? Sebuah ungkapan untuk menggambarkan hasil negatif dari sebuah saran atau semangat. Waspadai agar diri sendiri tidak terjebak atau malah menjadi pelaku bagi orang lain.

Sejauh ini belum ada definisi yang pasti tentang toxic positivity. Namun dapat dijabarkan sebagai saran, nasihat, penyemangat, atau support yang justru membuat seseorang dalam masalah kian terpuruk. Lantaran tetap meminta orang tersebut selalu ada dalam garis positif. Tidak memberikan ruang bagi yang namanya sedih, khawatir, menyesal, dan sebagainya.

Baca juga: Menjaga Kesehatan Mental Selama Corona Melanda

Mungkin bagi sebagian orang, mendapat saran positif saat mengalami konflik dapat menjadi obat. Tapi bagi sebagian yang lain malah berbuah toxic. Racun yang bereaksi dari adanya kalimat-kalimat positif. Bukannya bangkit atau lebih baik, sang penerima malah menunjukkan yang sebaliknya.

Jadi, hati-hati bagi Anda yang sedang dalam masalah atau sedang mendengarkan masalah orang lain. Ada saatnya memberi saran, ada pula saatnya cukup menjadi pendengar. Kenali ciri atau tanda-tandanya. Supaya ucapan yang terluncur tidak menjadi bumerang bagi diri sendiri dan khususnya bagi yang sedang dirundung problema.

Mengabaikan perasaan negatif

Salah satu sisi gelap dari toxic positivity adalah mengabaikan perasaan negatif. Rasa yang dapat muncul sesaat pasca ada konflik atau muncul sekian lama setelah peristiwa terjadi. Tetapi rasa yang ada diabaikan atau dianggap tak ada. Mencoba tidak diterima, diusir, sebisa mungkin segera dihapus dari pikiran.

Padahal wajar saja merasa ada yang negatif dalam perasaan. Tubuh dan pikiran juga membutuhkan jeda dan istirahat guna mengenali segala perasaan yang datang. Semacam kesempatan untuk menerima, mengelola, sembari memikirkan jalan keluar.

Merasa bersalah sudah merasa negatif

Merasa bersalah akan menjadi negatif. Contohnya menyesal telah sedih, takut, marah, khawatir, serta lain-lain. Rasa-rasa yang menurut pandangan toxic positivity seharusnya tak perlu diikuti.

Jelas pandangan yang belum tentu benar. Karena alamiah tubuh merespon sesuatu yang negatif dengan reaksi yang negatif pula.

Baca juga: Menjalankan Self Love Dengan Benar

Merasa baik-baik saja

Toxic positivity juga ditandai dengan selalu merasa baik-baik saja. Meski ada sesuatu yang mengganjal dan perlu diselesaikan. Tetapi diri sendiri lebih memilih untuk menampilkan yang bernada positif. Alhasil, sikap demikian bukannya menyelesaikan masalah. Kondisi yang terjadi ialah sebaliknya. Masalah tambah menumpuk dan terasa terus menyiksa.

Lebih beruntung dari yang lain

Tanda lain dari racun ini adalah merasa lebih beruntung dari yang lain. Seberapa parahpun hal-hal yang sudah dialami, masih harus disyukuri ketimbang kondisi orang lain. Atau masih banyak orang lain yang tidak seberuntung kamu. Jadi, tak perlu sedih dan terpuruk. Merupakan sebagian ilustrasi untuk mendeskripsikan bagaimana bahayanya toxic positivity.

Baca juga: Contoh Perlakuan Yang Bisa Menjatuhkan Mental Anak

Harus selalu positif

Dan, seperti yang disebutkan tadi, tidak ada ruang untuk yang namanya negatif. Harus selalu positif, selalu semangat, dan selalu baik-baik saja. Juga tidak ada waktu untuk bersedih, merenung, istirahat, atau mencerna masalah.

Jika terus begini, apa yang terjadi selanjutnya? Dampaknya banyak sekali. Salah satunya adalah menyerang kesehatan mental. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow instagram: @etalaseserpong