Jadi Menantu yang Berdaya

43

Masalah yang menimpa pada para menantu sudah sangat sering terdengar. Diperlakukan tidak sebagaimana mestinya karena faktor tertentu. Dari mertua, saudara ipar, maupun keluarga besar. Sikap yang tentunya tidak bisa dibiarkan. Karena menantu juga perlu diberi kesempatan dan didukung dalam menjalankan perannya.

Dan semua itu bisa terwujud jika menantu dapat berdaya atas diri dan hak-hak yang dimiliki. Pada kehidupan pribadi, rumah tangga, relasi dengan pasangan, dan anak. Namun pastinya tidak mudah. Sebab ada beberapa situasi yang menghalangi.

Baca juga: Sumber Perselisihan Antara Menantu Dan Mertua

Contohnya adalah intervensi dari mertua yang terlalu besar. Atau disebabkan oleh kondisi tinggal satu atap, masih tergantung secara finansial, menantu dianggap tidak menghasilkan materi bulanan, atau datang dari keluarga yang tak setara status ekonominya. Belum lagi minim peran dari pasangan untuk menjembatani masalah antara istri dengan keluarga besar.

Sehingga tak hanya terpojok, menantu juga kerap dihadapkan dengan aneka persoalan rumit. Dari tak didengar suaranya sampai diabaikan kebutuhannya.

Lugas berkomunikasi

Karenanya penting sekali untuk menumbuhkan kesadaran internal dalam diri para menantu bahwa dirinya pantas untuk dihargai. Yang mana diimbangi keterampilan berkomunikasi serta pemetaan masalah.

Bagian mana masalah yang perlu disampaikan dan mana yang tidak, beserta waktu yang tepat. Semakin baik dan intens keterampilan berkomunikasi yang dilancarkan, semakin besar pula tujuan yang diharapkan tercapai.

Mandiri

Di samping itu mesti mandiri. Mengupayakan banyak hal yang berkaitan dengan diri dan melaksanakan kewajiban berdasar kuasa sendiri. Tidak mudah melimpahkan tanggung jawab pada orang tua atau meratapi kondisi yang dialami. Mandiri dalam arti, selalu berusaha mencari cara agar semua yang diperlukan dapat terlaksana sebaik-baiknya.

Baca juga: Campur Tangan Keluarga Besar Yang Tak Disukai Pasangan Baru Menikah

Namun mandiri di sini tidak dapat dibatasi hanya materi saja. Walau tidak bekerja, pengaturan cash flow rumah tangga yang baik akan membuat menantu menjadi pribadi mandiri. Sehingga mereka yang tadinya ingin merendahkan posisi menantu jadi tidak punya alasan kuat.

Bertanggung jawab dan paham konsekuensi

Selain itu punya tanggung jawab dan berani menanggung konsekuensi atas setiap opsi yang dipilih. Tapi sebaiknya kemukakan terlebih dulu mengapa menantu memilih putusan atas sesuatu yang kemungkinan terlihat tak umum dan bakal mengundang cemoohan di kalangan keluarga. Alasan yang baik, rasional, dan berdampak jangka panjang akan sangat membantu orang lain lebih respek pada posisi menantu.

Tahu kapan butuh jeda dan bantuan

Tak selamanya para menantu harus terlihat tegar dan baik-baik saja. Adakalanya mengatakan perlu jeda dan bantuan dari orang lain. Misalnya sejenak ingin me time dan seseorang membantu menjaga anaknya. Cara sederhana sekaligus untuk menyadarkan orang lain bahwa menantu punya kebutuhan sendiri. Meski kebutuhan tersebut tampak sepele bagi yang lain.

Baca juga: Agar Anak Tak Mudah Mendengar Omongan Orang Lain

Stay on track

Serta stay on track. Tetap menjalankan aturan dan kesepakatan bersama pasangan dan anak-anak. Walau mungkin mertua atau keluarga sendiri selalu memberikan komentar negatif dalam banyak hal. Karena selalu mendengarkan dan merasa tidak enakan tak selamanya menguntungkan. Lebih baik jalan terus dan nikmati setiap proses demi tujuan yang lebih besar. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels, Freepik

Follow instagram: @etalaseserpong