Jangan Buru-Buru, Pelajari Dulu KPR Rumah DP 0%

92
Pelajari KPR sebelum membeli rumah.

Kabar baik terdengar awal Maret ini. Di mana KPR dengan DP 0% mulai diberlakukan. Namun, sekalipun merupakan angin segar, jangan terburu-buru. Pelajari dulu bagaimana mekanisme yang diterapkan.

Aturan ini dikeluarkan oleh Bank Indonesia terkait loan to value (LTV) atau financing to value (FTV) untuk pembelian properti. Di mana masyarakat yang ingin membeli rumah atau bentuk properti lain melalui sistem KPR tidak perlu membayar DP di awal.

Baca juga: Teliti Sebelum Mengambil KPR

Tujuannya di samping memberikan kemudahan bagi konsumen, juga untuk menggenjot sektor aktivitas properti yang terus melesu. Sehubungan daya beli yang amat rendah di situasi pandemi sekarang ini. Sehingga diharapkan konsumen mulai melirik kembali dan membeli. Khususnya yang belum memiliki hunian atau tempat tinggal.

Akan tetapi, bagi yang masih awam soal properti, KPR, dan urusan uang muka, angka 0% di awal bisa menjebak. Pasalnya dikhawatirkan ada masalah-masalah di belakang yang belum sepenuhnya dipahami.

Besar cicilan tiap bulan

Perlu diketahui, adanya uang muka dalam sistem KPR dimaksudkan untuk mengurangi angka angsuran setiap bulan. Dengan kata lain, konsumen terbebani di awal (misalnya 30 persen dari harga beli) dan selanjutnya tinggal melunasi sisa 70 persen per bulannya. Semakin besar nilai DP yang dibayarkan, semakin kecil nilai angsuran setiap bulan. Jadi, jika ada DP 0%, konsumen memang di awal tidak terbebani apa-apa. Namun berikutnya cicilan langsung mencakup utang 100%.

Baca juga: Strategi Meringankan Cicilan KPR

Maka dari itu, pantau angka angsuran yang berlaku tiap bulan pada pihak bank atau pengembang. Sangat mungkin, nilainya lebih besar dari rata-rata KPR tanpa DP 0%. Hal yang kerap mengecoh konsumen. Sebab DP 0% seolah-olah sangat meringankan.

Selain itu, sesuaikan kembali jumlah angsuran dengan pendapatan tiap bulan. Ada baiknya tidak lebih dari 30 persen, guna menjaga sistem kredit yang sehat dan finansial internal rumah tangga terkendali.

Sifat suku bunga

Mengingat kondisi ekonomi yang masih lesu, berikutnya pelajari mengenai suku bunga yang berlaku. Jangan tergiur oleh suku bunga yang rendah tapi hanya berlaku untuk 1 hingga 3 tahun saja. Lebih baik pilih suku bunga yang fixed dan berlaku sepanjang 10 tahun. Serta pahami tentang suku bunga yang fluktuatif. Sangat berisiko melipatgandakan angka cicilan secara mendadak dan tak terkontrol.

Apalagi pandemi dan krisis semakin menimbulkan berbagai spekulasi yang tak bisa diduga. Salah memilih opsi dalam tindakan ekonomi, rawan menimbulkan kerugian besar. Bunga naik, angsuran membesar, kredit macet, kena penalti, dan sebagainya. Salah-salah DP 0% yang tadinya meringankan, malah berbuah pahit di belakang.

Baca juga: Keringanan Perbankan Yang Bisa Dimanfaatkan

Bagaimana banknya

Pertimbangkan pula bagaimana seluk beluk KPR dari pihak bank yang digandeng oleh pengembang. Misalnya, beberapa bank dengan label syariah mengeluarkan kebijakan dengan nilai angsuran tetap meski suku bunga berubah-ubah. Sementara bank-bank lain mungkin menerapkan kebijakan lain dengan kemudahan yang tak kalah menariknya. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels, Freepik

Follow instagram: @etalaseserpong