Jangan Katakan Ini Pada Pasangan Jika Ingin Tetap Awet dan Romantis

24
Kata-kata sepele bisa merusak rumah tangga.

Mengarungi biduk rumah tangga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak nasihat orangtua yang patut kamu turuti mengingat mereka sudah jauh lebih berpengalaman. Manis-pahitnya sebuah hubungan sudah pasti ada. Apalagi berada di titik jenuh ketika kamu dan pasangan sering berdebat tanpa ujung pangkal. Diskusi dengan kepala dingin merupakan jalan terbaik daripada memilih mengabaikan sebuah konflik.

“Menikah itu bisa dibilang gampang-gampang susah. Karena kita disatukan dengan orang yang berbeda dengan kita. Tetapi dengan janji pernikahan, kita harus menyatukan visi misi dalam hidup dan itu lah tantangan pernikahan yang sangat berat. Seringkali amarah dan cemooh itu sangat menyakitkan hati. Kita harus selalu belajar bagaimana mengerti pasangan,” ujar Fani selaku warga Gading Serpong.

Seperti yang dikutip dari popsugar.com.au, seburuk apapun situasi yang sedang terjadi di dalam rumah tangga, ada beberapa hal yang sebaiknya tidak kamu katakan kepada pasangan. Kata-kata ini berpotensi menyakiti perasaannya. Bahkan bisa memicu keretakan rumah tangga jika sudah dipendam terlalu lama. Jangan sampai visi dan misi kalian sebagai pasangan suami istri hancur lebur hanya karena hal sepele seperti ini ya! Yuk disimak.

“Seharian di rumah tapi enggak bisa bersih-bersih?”

Walaupun di zaman modern seperti sekarang banyak pasangan suami istri yang sama-sama bekerja, tetapi masih ada yang membagi peran antara siapa yang mencari nafkah di luar dan siapa yang mengurus kebutuhan di dalam rumah. Jika kebetulan kamu yang mencari nafkah, jangan pernah memeberikan komentar kepada pasanganmu yang diam saja di rumah. Hari itu mungkin dia sedang lelah sehingga tidak bisa membereskan rumah dengan maksimal. Daripada sibuk ngomel, kenapa tidak kamu bantu saja? Bekerja sama dalam hal bersih-bersih rumah dipercaya bisa mempererat hubungan lho.

“Istrinya temanku walaupun baru melahirkan tetap langsing dan cantik.”

Kalau yang ini sih sudah sangat keterlaluan. Menjaga bayi dalam kandungan selama 9 bulan saja sudah sangat melelahkan. Setelah melahirkan, istri pun mendapatkan tantangan baru sebagai seorang ibu. Selama 24 jam penuh harus siap siaga memenuhi kebutuhan sang bayi. Cobalah untuk mengerti kondisinya yang seperti ini. Tidak semua ibu sama dalam menjalani fase tersebut. Kebanyakan justru tidak sempat merawat dirinya sendiri karena mementingkan kebutuhan bayi dan suami.

“Kamu malas kerja ya? Beda dengan suaminya temanku yang gajinya langsung dua digit.”

Tidak hanya suami saja, istri juga seringkali menyakiti perasaan suami dengan kata-kata sepele. Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau. Setidaknya begitulah petuah orangtua. Untuk itu sebaiknya kamu tidak merasa iri ketika suaminya temanmu lebih kaya raya dibandingkan dengan suamimu. Cobalah untuk sabar dan mendukung suami dalam meniti karier. Yang namanya rezeki tidak akan kemana-mana sist!

“Kalau mamaku sih…”

Nah ini dia yang biasanya menjadi titik awal keributan di dalam rumah tangga. Jangan pernah membandingkan orangtuamu dengan pasangan. Baik kamu dan pasangan lahir di zaman yang berbeda dengan orangtua. Pola pikirnya pun sudah pasti berbeda. Yang harus kalian lakukan adalah beradaptasi dengan perkembangan zaman.

“Kalau aku jadi kamu sih sih enggak akan biarkan mereka melakukan itu”

Ketika Tuhan sudah menghadirkan buah hati di tengah kebahagiaanmu dan pasangan, seringkali salah satu di antara kalian merasa lebih baik dan sempurna. Tak jarang yang satu menjadi lebih dominan di dalam rumah perkara cara mendidik anak. Apalagi jika si anak kebetulan berbuat kesalahan atau jatuh sakit. Jangan sampai kamu menyalahkan satu sama lain. Sering diskusi dengan pasangan bisa menurunkan resiko keributan dalam rumah tangga.

 

Penulis: Maria Theresia

Foto ilustrasi: Pixabay.com/meinTAL

Follow Instagram @etalaseserpong