Joker: Karakter Antagonis DC dengan Kehidupan yang Kelam

128

Joker, salah satu karakter antagonis ikonis DCU tak pernah gagal menyajikan kejahatan yang sempurna. Joker menjadi salah satu musuh bebuyutan Batman yang kejahatannya begitu mengganggu Gotham City. Selama ini, kita melihat Joker dalam bentuk aslinya, yang menebar kejahatan atas dasar kesenangan. Bahkan, Joker menyelipkan lelucon-lelucon ketika melakukan aktivitas keji. Sebutan yang disandangnya bukanlah omong kosong. Joker adalah seseorang yang bisa menebarkan lelucon satir sembari melempar pandangan dingin.

Tahun ini, karakter Joker kembali diangkat ke layar lebar. Joaquin Phoenix membawakan karakter ini ke dalam level yang berbeda. Ketika menyaksikan film ini di awal-awal, kami sudah merasakan suasana dark yang intens. Joker, yang memiliki nama asli Arthur Fleck, adalah sosok yang peculiar dengan abnormalitas. Arthur mengalami kerusakan otak sehingga dia sering kali tidak bisa mengontrol tawa—walau tidak ada hal lucu yang dialami. Arthur juga menjalani hidup yang memprihatikan. Dia tinggal di sebuah apartemen kumuh bersama ibunya.

Film ini memang dikategorikan sebagai psychological thriller yang menampilkan pergumulan karakter utamanya dalam menghadapi kondisi mentalnya.

Arthur berjuang untuk membiayai hidupnya dan ibunya dengan menjadi badut panggilan. Kondisi mentalnya dikisahkan tak stabil. Dia rutin bertemu dengan psikiater dan minum obat penenang yang mengendalikan pikiran-pikiran negatifnya.

Hidup Arthur bisa dibilang jauh dari keberuntungan dan kebahagiaan. Bahkan, dia mengatakan bahwa “Sepanjang hidup, saya tidak pernah merasa bahagia…” Energi negatif yang begitu kuat ini, ditambah rangkaian peristiwa nahas yang dialaminya, membuat Arthur semakin terpuruk.

“Tembok besar” yang dibangunnya tinggi-tinggi selama ini runtuh begitu saja ketika dia mengetahui masa lalunya. Interaksinya dengan orang-orang di sekitarnya juga membuatnya semakin mantap untuk “menjadi dirinya apa adanya”. Tanpa topeng, tanpa ada yang ditutup-tutupi.

Suasana dark yang depressing

Seperti dibahas di awal, beberapa puluh menit pertama, kami sudah bisa merasakan aura negatif film ini melalui sang karakter utama, Arthur. Bagi sebagian orang, film ini dianggap sebagai hiburan semata. Namun, bagi sebagian lainnya, film ini berhasil “menarik” mereka masuk menyelami karakter Arthur Fleck hingga merasakan empati yang cukup dalam.

Beberapa penonton menyaksikan bahwa film ini berhasil memainkan emosi penontonnya. “Saya merasa tidak nyaman di 30 menit pertama. Ketika film selesai, saya merasakan kelelahan dan mengalami penurunan mood yang signifikan. Joker berhasil menguras energi saya!” ujar Marissa, warga SR Melati Mas.

Film ini memang dikategorikan sebagai psychological thriller yang menampilkan pergumulan karakter utamanya dalam menghadapi kondisi mentalnya. Film ini juga dilengkapi kesadisan tingkat dewa yang tentu akan sangat mengganggu anak-anak.

Apakah Anda salah satu yang menganggap di film ini Batman akan muncul untuk melawan Joker? Ekspektasi Anda terlalu tinggi! Karena film ini hanya tentang Joker dan kesakitan jiwanya yang membentuknya menjadi penjahat kelas kakap Gotham City.

Jika Anda memutuskan untuk menonton film ini, bertahanlah hingga akhir dan ketika Anda merasa “terganggu” dan cemas berkepanjangan, segera konsultasikan kondisi Anda ke orang yang ahli di bidangnya!

Penulis: Krista Rai

Foto: Warner Bros Pictures

Follow Instagram @etalaseserpong