Kebiasaan Makan Orang Indonesia Yang Bikin Gemuk

53
Menjaga berat badan dengan membongkar kebiasaan buruk.

Angka obesitas di Indonesia terus meningkat. Diduga, berkaitan erat dengan kebiasaan makan yang selama ini dijalankan tiap hari. Seperti apa tepatnya?

Menurut Pemantauan Status Gizi (PSG) Kementerian Kesehatan pada 2017, kurang lebih 25,8 orang dewasa masuk kelompok obesitas. Melonjak dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya yang hanya 10,6 persen. Disebutkan pula, sekitar 29,7 persen perempuan tergolong obesitas. Sedangkan kelompok laki-laki lebih sedikit, yakni 11,4 persen.

Baca juga: Penanganan Pola Makan Anak Obesitas

Tentu fenomena ini tidak bisa dibiarkan. Sebab selain mengganggu produktivitas kerja, jelas membahayakan kesehatan. Apalagi sifatnya silent killer. Tak terasa ada, tapi tumbuh mengembang dalam tubuh dan perlahan menggerogoti fungsi organ-organ vital. Seperti jantung, paru-paru, sistem syaraf, organ hati, dan serangkaian proses pencernaan. Juga terancam oleh penyakit-penyakit serius, misalnya kanker dan diabetes.

Dobel karbo

Di Indonesia, ada seloroh umum, belum makan jika belum makan nasi. Karenanya, meski sudah mengonsumsi roti atau mie, nasi tetap ditambahkan. Alhasil kerap terjadi dobel karbo dalam satu rentang waktu konsumsi. Tubuh pun kelebihan kalori yang jika tidak diimbangi gerak fisik atau pola hidup sehat, berubah menjadi tumpukan lemak. Akibatnya bisa ditengarai, tubuh menggemuk dan obesitas tak terhindarkan.

Kurang serat

Nyatanya obesitas juga disebabkan oleh kurangnya serat dalam tiap porsi makan. Sayur hijau dan buah-buahan masih belum menduduki prioritas ada di meja-meja makan keluarga. Daging-dagingan masih dianggap makanan lezat yang harus hadir di meja makan. Ketika tubuh kekurangan serat, pengelolaan makanan tersendat. Namun sebaliknya, menyuburkan peluang muncul kolesterol, imun tubuh melemah, dan tentunya terbentuk lemak. Jadi, upayakan selalu untuk menghadirkan serat setiap kali makan.

Baca juga: Karbohidrat Yang Lebih Sehat Dari Nasi

Serba gorengan dan tepung

Menu serba gorengan dan tepung-tepungan (roti dan mie merupakan contoh umum) adalah pemicu obesitas lainnya. Walau terasa enak dan cepat mengenyangkan, kedua menu tadi lebih banyak membawa malapetaka. Dari lemak jenuh, kolesterol berlebihan, pemicu darah menggumpal, hingga lemak menumpuk pada bagian perut. Tidak heran jika orang yang suka makan gorengan dan tepung-tepungan dalam jangka panjang sering mengidap penyakit kronis.

Sering ngemil

Ngemil sebenarnya sah-sah saja. Tapi jika terlalu sering dan menunya berat sama saja membahayakan diri sendiri. Contohnya ngemil gorengan dan tepung-tepungan seperti tadi, yang cepat menaikkan berat badan. Karena itu, ada baiknya batasi waktu mengemil dan ubah menu ke yang lebih sehat. Pilih buah-buahan segar, potongan sayur sebagai salad, biji-bijian, granola, atau lainnya.

Banyak pemanis tambahan

Hati-hati jika selama ini konsumsi pemanis tambahan di menu harian Anda sudah kelewatan. Seperti paling banyak ditambahkan pada minuman dan camilan manis. Pasalnya zat ini juga sangat efektif membuat gemuk berikut penyakit berbahaya yang siap mengintai.

Baca juga: Waspadai Diabetes Pada Anak

Terlalu lama diolah

Selain itu, proses memasak yang terlalu lama dan diolah berulang juga memicu terjadinya obesitas. Lantaran dari proses memasak lama, nutrisi dalam makanan hilang dan berubah jadi lemak transgenik. Belum lagi jika ada tambahan bahan-bahan kimiawi yang tidak ramah dalam tubuh. Sehingga sebenarnya saat makan, tubuh hanya mendapat asupan lemak saja. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels, Freepik

Follow instagram: @etalaseserpong