Kelola Keuangan di Masa Kritis Pandemi Covid-19

88

Pandemi Covid-19 masih belum berakhir. Namun, kebutuhan kita terus berjalan. Banyak terjadi pemutusan hubungan kerja pada karyawan. Akhirnya, hal yang paling berdampak pada masyarakat adalah masalah keuangan.

Tidak adanya pemasukan, dipotongnya gaji dari tempat kerja, atau bahkan tabungan kita sudah mulai menipis karena memenuhi kebutuhan pokok setiap hari, bukan tidak mungkin kita sampai pada titik kritis. Demi tercukupinya kebutuhan, kamu harus lebih berhemat dan mulai mengelola keuanganmu ketika harus menghadapi kritis keuangan. Bagaimana caranya? Simak tipsnya berikut ini!

Lakukan evaluasi sumber penghasilan

Hampir semua lini pekerjaan terkena dampak Covid-19. Perputaran ekonominya pun ikut menurun. Beberapa pekerjaan yang sangatlah terdampak adalah para pekerja lapangan dan harian, pemilik usaha kecil dan menengah, serta para pekerja lepas. Meski ada pekerjaan lain yang tidak terkena imbas, tetap perlu melakukan antisipasi ini.

Seperti dirasakan Bayu, warga Cisauk, yang memiliki usaha fotokopi dan ATK (alat tulis kantor) yang terkena imbas pandemi ini. “Kerasa banget dampaknya. Pendapatan perhari berkurang drastis karena anak sekolah juga diliburkan sampai Juni.”

Maka dari itu, lakukan penghematan dengan cara menghitung pemasukan harian untuk 30 hari ke depan. Rinci semua pemasukan dan penghasilan yang kamu dapatkan. Pangkas kebutuhan yang tidak terlalu kamu butuhkan, seperti biaya nongkrong, transportasi bagi yang bekerja dari rumah, dan biaya belanja untuk keinginan sendiri. Ini hal wajib yang perlu kamu lakukan agar mempermudah kamu mengelola pengeluaran untuk bulan selanjutnya.

Hitung ulang pengeluaran

Menghitung ulang pengeluaran merupakan langkah awal yang harus dilakukan untuk penghematan keuangan rumah tangga. Lakukan kelola bujet dengan sistem pos alokasi. Jika penghasilanmu kurang dari 10 juta, kamu bisa membaginya ke dalam tiga pos, yaitu pengeluaran rutin yang wajib, pengeluaran rutin yang dihemat, dan dana darurat. Pengeluaran rutin yang wajib misalnya kebutuhan pokok sehari-hari, pengeluaran rutin yang dihemat misalnya biaya transportasi, dan terakhir dana darurat untuk kebutuhan yang tidak terduga.

Lakukan kelola pengeluaran untuk kebutuhan per satu minggu. Hitung biaya perhari yang kamu butuhkan sampai seminggu. Setelah mendapatkan jumlahnya, pisahkan dana tersebut ke dalam rekening yang kamu pakai sehari-hari atau dompet digital. Dengan bujet yang sudah dipisahkan, kamu harus konsisten untuk menggunakan dana tersebut selama seminggu. Lebih baik lagi kalau kamu bisa berhemat dan uangnya tersisa. Jadi, bisa untuk tambahan minggu berikutnya. Ulangi hal ini untuk minggu depannya lagi dan seterusnya.

Prioritaskan dana kesehatan

Selain memenuhi kebutuhan pokok, kamu juga harus perhatikan kesehatanmu. Alokasikan dana untuk kesehatan, seperti mengonsumsi buah dan sayur, air putih, dan vitamin. Jangan menyetoknya dalam jumlah berlebihan, ya. Kamu harus tetap berhemat.

Hindari pembelian dengan pinjaman

Untuk sekarang, stop dulu berbelanja dan juga pembelian dengan pinjaman. Kita tidak pernah tahu situasi keuangan kita ke depannya seperti apa, apalagi di tengah wabah korona ini. Belum lagi jika menghadapi kenyataan pahit, seperti dirumahkan bahkan sampai di PHK. Bisa jadi kamu tidak bisa melunasi pinjaman yang terus berjalan dan berbunga. Jangan sampai kamu terlilit utang dalam situasi seperti sekarang ini.

Melakukan aktivitas produktif minim biaya

Jangan sampai kebiasaan berhemat kamu menghambat diri untuk mengasah kemampuanmu selama di rumah. Kamu tetap bisa memanfaatkan waktu dengan mengikuti kelas keterampilan daring secara gratis. Ini bisa menjadi bekal untuk karier kamu ke depannya.

Pentingnya dana darurat

Selama di rumah saja, kebutuhan pasti akan bertambah, seperti kuota internet, makanan ringan, biaya listrik karena kamu memakai komputer atau laptop. Jika selama ini kamu tidak pernah memperhitungkan pengeluaranmu, ubah kebiasaan tersebut, ya. Tinjau ulang pos mana yang bisa dialokasikan atau bisa distop untuk menutupi pengeluaran ekstra tersebut. Misalnya, anggaran transportasi dan pos gaya hidup (nonton bioskop, makan di restoran, liburan, member gym, dan lainnya) adalah biaya-biaya yang bisa dialihkan.

Jika pos-pos tersebut sudah tidak bisa menutupi lagi, barulah gunakan dana darurat. Dana darurat memang selalu disarankan bagi siapa pun untuk menghadapi situasi tak terduga seperti sekarang ini. Dana darurat memang harus disisihkan dari penghasilanmu sampai jumlahnya 12 kali pengeluaran rutin bulanan. Simpan dana darurat di rekening terpisah, ya. Lalu, bagaimana kalau tidak ada dana darurat sama sekali? Kamu bisa menjual barang-barang yang tidak terpakai, tetapi masih memiliki nilai jual tinggi. Hasil dari penjualan tersebut, langsung pindahkan ke rekening dana darurat. Ingat, dana darurat dipakai ketika sudah dalam kondisi darurat.

 

Itulah tips mengatasi kritis keuangan selama menghadapi pandemi ini. Semoga semuanya segera berakhir dan keuangan menjadi stabil lagi. Selamat berhemat, ETALASER!

 

Penulis: Linda Irawati

Foto ilustrasi: Freepik

Follow Instagram: @etalaseserpong