Mematahkan Mata Rantai Korupsi di Generasi Muda

157
Mencetak generasi anti korupsi.

Indonesia baru saja kehilangan seorang ahli hukum dan mantan Hakim Agung, Artidjo Alkostar. Terkenal sebagai musuh koruptor karena putusan pidananya yang tidak main-main pada mereka. Tapi, walau sudah pergi, bukan berarti perjuangannya berhenti. Justru perlu diteruskan agar generasi muda tak mengenal yang namanya korupsi.

Karenanya, sangat dibutuhkan peran orang tua. Dalam aktivitas keseharian sebagai figur yang paling dekat dan dicontoh langsung oleh anak-anak. Di samping upaya menanamkan nilai-nilai anti korupsi atau inkulturasi norma dalam tatanan keluarga.

Baca juga: Belajar Jadi Pemimpin Dari Tokoh Dunia Terkini

Apalagi keluarga adalah tempat tumbuh kembang anak yang paling berpengaruh. Bila semua keluarga menjalankan prinsip yang sama, sangat niscaya korupsi akan hilang dengan sendirinya. Ditambah penguatan oleh lingkungan sekitar dan institusi pendidikan.

Jadi edukasi tentang anti korupsi tak hanya dipelajari dari kacamata teori saja. Namun juga dipraktekkan langsung sejak dini dan diresapi.

Jujur dalam keseharian

Penting sekali menerapkan kejujuran dalam setiap lini aktivitas keseharian. Dimulai dari hal-hal sederhana di rumah, yang nantinya bila orang tua dan anak terus konsisten akan terbawa ke aksi yang lebih besar. Contohnya orang tua membiasakan diri memberikan alasan yang sebenarnya pada anak untuk suatu masalah ketimbang mengancam dengan hukuman yang bohong.

Serta ajarkan anak untuk selalu mengembalikan uang sisa jajan, barang-barang ke tempatnya semula setelah digunakan, dan sebagainya. Termasuk berani menolak iming-iming orang lain atau teman untuk berbuat sesuatu yang menyalahi nilai-nilai kejujuran. Seperti mencontek jawaban saat ujian di sekolah.

 Disiplin dan tepat waktu

Biasakan disiplin dan tepat waktu. Khususnya yang menyangkut kewajiban dan tanggung jawab diri sendiri. Sebab korupsi tak hanya dalam lingkup materi, tapi juga menyangkut banyak hal. Tak terkecuali waktu, yang sering dikorupsi.

Selain itu, anak juga memetik pelajaran lainnya. Dari disiplin, belajar pula akan manajemen waktu, efektivitas dan efisiensi, serta menghargai posisi orang lain yang terhubung dengan waktu.

Baca juga: Mengenalkan Kejujuran Sejak Awal

Permisi dan minta izin

Beri contoh pada anak untuk selalu permisi dan meminta izin sebelum menggunakan barang orang lain atau ada kepentingan tertentu. Langkah untuk mencegah anak tidak mengambil barang sekena hatinya. Karena sangat jelas, ketika anak terbiasa memakai barang yang bukan milik pribadi, sama saja mengajarkan tak ada kepentingan orang lain yang perlu dihormati.

Tanggung jawab dan konsekuensi

Orang tua boleh saja membebaskan anak memilih. Tapi sertakan dan kenalkan pula akan pentingnya sebuah tanggung jawab. Plus konsekuensi dari opsi-opsi yang telah diambil. Mengapa sedemikian penting? Supaya anak memahami bahwa tiap tingkah laku yang diperbuatnya juga menimbulkan dampak bagi orang-orang sekitar. Terutama jika kelak menduduki jabatan penting, keputusan dan kinerjanya akan memberi dampak yang lebih besar lagi.

Baca juga: Merawat Kehidupan Berbangsa

Hargai hak orang lain

Korupsi juga dimulai dari tidak respeknya akan hak orang lain. Berani mengambil jatah atau milik orang tanpa memikirkan akibat ke depan. Sehingga di rumah atau di mana saja, dan pada siapa saja, beri tindakan nyata bagaimana seharusnya diri sendiri respek dan mengapresiasi kedudukan orang lain. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels, Freepik

Follow instagram: @etalaseserpong