Membantu Anak Bangkit Dari Cyberbullying

26
Langkah pencegahan cyber bullying terhadap anak.

Saat ini, meski anak tetap di rumah saja, bukan berarti aman dari perundungan. Dunia maya dan media sosial malah menjadi perantara subur tumbuhnya cyberbullying. Cegah dan bantu anak untuk bangkit dari perlakuan tak menyenangkan ini.

Umumnya anak atau orang dewasa sekalipun, akan merasa marah, sedih, malu, sakit fisik, stres hingga menuju pada depresi setelah mendapat kata-kata tertulis (komentar), foto, atau video yang bernada ancaman, ejekan, upaya menjatuhkan, dan sebagainya. Pelaku bisa datang dari orang yang dikenal, seperti teman-temannya sendiri, maupun orang yang tidak dikenal.

Ditengarai fenomena cyberbullying terus bertambah seiring pemakaian gawai yang kian melekat pada anak-anak. Sehubungan dengan aktivitas belajar dari rumah, yang memungkinkan anak mengakses gawai lebih lama. Termasuk mengakses berbagai konten dan berujung menjadi sasaran empuk dari pelaku perundungan dunia maya.

Ajak bicara

Maka dari itu, ketika orang tua menyadari ada perubahan sikap pada anak, ajak mereka untuk bicara. Tujuan utamanya memang untuk mengetahui apa yang terjadi. Di samping itu juga untuk memastikan bagaimana perasaan anak ketika dirundung, melepaskan beban emosi, dan menjadi wadah keluh kesah yang tepat.

Sebab seringkali, anak yang merasa sedih akibat perundungan dan orang tua tidak mampu berperan sebagaimana mestinya, justru mengarah ke bahaya yang lebih besar. Berusaha menemukan pelampiasan yang belum tentu baik bagi diri anak.

Beda bercanda dan bully

Kadang anak memilih diam, lantaran berpikir apa yang terjadi pada dirinya hanya bahan bercanda. Padahal dia merasa tidak suka dan tak nyaman.

Oleh karena itu, bantu anak membedakan mana yang boleh jadi lelucon, mana yang tidak.

Ketika teman-temannya tertawa, sedang dia merasa sedih dan malu, maka itu sudah masuk kategori cyberbullying.

Ingatkan akan bahaya

Agar tidak terulang, anak perlu diingatkan akan bahaya. Lebih selektif lagi dalam mengunggah konten di akun media sosial, menahan diri saat ingin berkomentar, dan lebih hati-hati menerima teman baru. Pastikan anak tahu bahwa orang tua siap menampung diskusi tentang kebingungan yang dia temui ketika berselancar di dunia maya.

Tetap bertahan dan percaya diri

Bangkitkan semangat anak untuk tetap bertahan dan percaya diri. Tidak mudah jatuh atas apa yang dia alami. Anggap perundungan sebagai lompatan menuju emosi dan sikap yang lebih baik. Akan tetapi beri waktu pada anak bila ia ingin sendiri, mencerna yang terjadi, dan bersiap lagi mengakses dunia maya.

Tunjukkan balas dendam yang sehat

Supaya tidak terus menerus menjadi korban, beri contoh untuk balas dendam. Namun dalam konteks yang positif.

Misalnya dengan mengukir prestasi, mengunggah konten yang bermanfaat di akun, cara komen yang baik di akun, tidak ragu memberikan bantuan saat pelaku perundungan menemui kesulitan.

Laporkan

Tak ada salahnya orang tua melaporkan jika cyberbullying sudah keterlaluan dan membahayakan posisi anak. Mengatakan segera ke guru, sekolah, orang tua yang bersangkutan, atau ke polisi. Sebab adakalanya perundungan tak bisa diatasi sendiri. Perlakuan ini membutuhkan kerja sama dari semua pihak. (LAF)

Foto ilustrasi: Pixabay.com/mirkosajkov

Follow Instagram @etalaseserpong