Membantu Tanpa Menyinggung Perasaan

33
Hindari membuat orang yang kita bantu merasa tersinggung.

Menolong seseorang adalah perbuatan yang mulia. Namun kadang kala bantuan dari kita belum tentu bisa diterima. Malah bisa jadi menyinggung perasaan yang menerima. Jadi, bagaimana sebaiknya menolong tanpa harus menimbulkan sakit hati?

Atau bisa juga menimbulkan kesalahpahaman. Perasaan ingin memberikan bantuan terbersit dari dalam diri sendiri. Padahal belum tentu seseorang yang Anda anggap membutuhkan bantuan, sejatinya bisa mengatasi persoalannya sendiri.

Misalnya karena melihat orang dengan kelainan fisik lantas buru-buru memberikan bantuan. Ada orang yang terduduk lesu di pinggir jalan lalu menganggapnya sebagai peminta-minta. Tanpa permisi atau prakata apapun langsung membantu teman yang terlihat sedang kesusahan finansial.

Masih banyak lagi contoh dalam kehidupan sehari-hari yang kemudian membuat bantuan disalahartikan. Bahkan menimbulkan perasaan tak nyaman. Lebih baik, pikir dulu sebelum langsung mengulurkan tangan.

Perhatikan kondisinya

“Perhatikan baik-baik kondisi orang yang ingin Anda tolong.”

Seseorang yang terlibat dalam kecelakaan memang sudah selayaknya diselamatkan tanpa harus menunggu lebih lama. Akan tetapi dalam kondisi, yang bisa disebut lebih santai, pikirkan kembali. Seperti faktor emosi, fisik, jenis kelamin, dan tak terlepas sosial ekonomi.

Boleh saya bantu?

Ada baiknya jika sebelum memberikan bantuan, Anda bertanya lebih dulu. Misalnya dengan pengantar, boleh saya bantu? Sebuah penawaran yang mengandung respek pada posisi orang lain. Tidak serta merta menganggapnya lemah dan selalu tergantung pada kebaikan orang lain. Dengan begitu, meski ditolak, Anda tidak akan dianggap lancang. Dan yang hendak ditolong juga tidak tersinggung.

Apa yang bisa saya bantu?

Niat memberikan bantuan juga bisa diawali dengan pertanyaan, apa yang bisa saya bantu? Cara ini akan menggugah jawaban langsung dari yang membutuhkan. Sehingga Anda bisa mengetahui bentuk bantuan yang paling tepat untuknya. Khususnya setelah pihak yang membutuhkan bantuan mengeluarkan segala keluhan dan berbagai persoalan. Dalam waktu singkat, jawaban bisa ditemukan bersama. Tidak terus berkutat mengenai persoalan yang ada.

Secukupnya tanpa ikut campur

Penerima bantuan akan sangat berterima kasih, saat bantuan yang diberikan berskala secukupnya.

“Tidak ada embel-embel tertentu, atau dengan kata lain, mengandung campur tangan dari pemberi bantuan.”

Cukup berhenti di satu titik, lalu membiarkan sang penerima melanjutkan aktivitasnya dan mengentaskan masalahnya sendiri.

Ikhlas

Bantuan juga seharusnya mengandung rasa ikhlas. Tidak terpicu oleh iming-iming tertentu. Atau malah kelak dikemudian hari menimbulkan beban dan utang budi. Bantuan yang sudah mengalir biarkan saja berlalu. Tak perlu dibahas dan diceritakan kemana-mana. Hargai perasaan mereka yang sudah ditolong. Sebab bisa saja menerima bantuan bukan merupakan kebiasaan, melainkan ketidakberdayaan yang mau tak mau harus diterima.

Tidak memaksa, apalagi sok tahu

Jangan paksa orang lain untuk menerima bantuan sebagai sebuah keharusan. Jangan pula memasang sikap sok tahu bahwa orang tersebut pastinya membutuhkan bantuan dari Anda. Selain membuat bantuan belum tentu berfaedah, rentan muncul konflik yang baru. Aliha-alih saling membantu, yang ada hanyalah seteru. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pixabay.com/sasint

Follow Instagram @etalaseserpong