Mengalami Gagal Bisnis? Yuk, Mulai Bangkit!

515

Tiga tahun lalu, Ferry membangun bisnis konveksinya. Dia mengkhususkan diri pada bisnis bordir. Kliennya perusahaan-perusahaan besar yang memproduksi seragam. Kebanyakan dari pabrik dan perusahaan outsource yang menyediakan seragam bagi karyawannya.

Pada 2018, bisnis Ferry mulai goyang. Beberapa pabrik kliennya memutuskan untuk mengurangi jumlah karyawannya. Pemangkasan karyawan membuat jumlah pesanan ke usaha Ferry pun berkurang secara signifikan. Pemasukannya tak bisa menutupi cicilan utangnya ke bank.

Warga Cilenggang ini tak segera putus asa dan sempat berjuang selama 6 bulan sampai akhirnya dia harus menghentikan bisnisnya sementara. Sulitnya mencari karyawan berintegritas dengan kemampuan sesuai kebutuhan membuat bisnisnya makin terpuruk. Akhirnya, Ferry memutuskan untuk “istirahat” sejenak sembari memikirkan strategi berikutnya. “Saya berjuang selama beberapa bulan sampai akhirnya saya menyadari saatnya untuk berhenti sejenak.”

Tak sedikit pebisnis yang mengalami hal yang seperti dialami Ferry. Gagal memang menjadi risiko tertinggi dari menjalankan sebuah bisnis, apa pun bentuknya. Ketika kegagalan menghampiri, apakah yang harus kita lakukan?

Terima kenyataan

Menerima kegagalan bukanlah kemampuan yang dimiliki semua orang. Kemampuan ini harus dilatih. Ketika kita mengalami kegagalan, kecenderungan yang muncul biasanya mempersalahkan pihak lain atau terpuruk terlalu lama karena mengasihani diri. Ilmu ikhlas bisa dipelajari, asal kita mau membuka diri.

Tak mudah menghadapi kegagalan. Apalagi jika ini adalah kegagalan pertama. Namun, ingatlah bahwa menjalankan bisnis apa pun akan selalu ada kemungkinan untuk gagal. Ketika saat ini Anda benar-benar berada di fase ini, Anda diperbolehkan menyesali beberapa hal, tetapi setelah itu bersiaplah untuk menerima bahwa gagal adalah salah satu fase menuju kesuksesan.

Abraham Lincoln, dalam buku biografinya, menyatakan, “Jalan hidup saya jelek dan licin. Kaki saya sering tergelincir. Namun, saya bangun kembali, mengatakan pada diri sendiri, ini hanya sebuah gelinciran, bukan kejatuhan.”

Berpikir positif

Ketika Anda berhasil menerima kenyataan, Anda akan mulai bisa berpikir logis dan positif. Pola pikir positif ini sangat dibutuhkan agar Anda bisa melanjutkan hidup dan memperbaiki kondisi.

Belajar dari kegagalan

Ferry mengingat-ingat apa yang membuat bisnisnya terpuruk. Selain karena “momentum”, dia juga mengakui bahwa dia tak memiliki SDM yang kompeten. “Dalam satu masa, saya kesulitan me-manage karyawan. Kompetensi mereka tak memadai, sedangkan pesanan berlimpah. Klien berguguran karena pengurangan karyawan dan karena saya tidak berhasil mengejar target. Semua ini saya jadikan catatan untuk memperbaiki sistem di kemudian hari.”

Belajar dari kegagalan adalah insting yang dimiliki pebisnis sejati. Anda perlu segera menata kembali bisnis dari kegagalan yang pernah terjadi. Pebisnis yang berhasil mencari akar kegagalannyalah yang akan meraih kesuksesan di masa depan.

Bangun semangat baru

Bangun motivasi baru! Anda boleh saja bersusah hati. Berikan waktu bagi diri untuk “berkabung”. Namun, tentukan target waktu. Setelah itu, atur hidup Anda kembali. Buat strategi baru sehingga Anda memiliki semangat baru untuk memulai lagi dari awal.

Gunakan semangat Anda untuk menentukan arah bisnis yang baru, tetapi jangan lupa untuk terus waspada akan segala kemungkinan di masa depan.

Selamat bangkit dan semoga sukses segera menjelang!

Penulis: Krista Rai

Foto: Yanalya/Freepik

Follow Instagram @etalaseserpong