Mengapa Mereka Yang Utang Lebih Galak Saat Ditagih?

37
Si penghutang kok lebih galak ya?

Sepertinya bukan berita baru jika orang yang punya utang lebih galak saat ditagih. Melontarkan bahasa yang tidak pantas atau menuliskan kata yang tidak seharusnya. Meski terdengar sudah biasa, namun tetap saja mengundang tanya. Mengapa mereka bersikap lebih galak pada penagihnya?

Bahkan bukan hanya dari kata-katanya. Tak jarang para pengemplang utang juga menunjukkan perilaku yang tidak semestinya. Contohnya menunda-nunda terus waktu pengembalian dengan berbagai alasan atau memajang foto jalan-jalan di media sosial, sementara utang tak kunjung dibayar. Bahkan yang beberapa waktu lalu sempat viral adalah orang yang berutang melaporkan sang pemilik uang ke polisi karena menagih lewat media sosial.

Tentu bukan reaksi yang diharapkan dari pihak penagih. Apalagi bila sedang dalam kondisi amat membutuhkan uang. Mereka juga merasa sedih, bingung, dan terpojok atas perlakuan yang diterimanya. Merasa menagih dengan baik-baik, akan tetapi berbuah pahit. Kerap pula dituduh tega terhadap teman, tak punya hati, sudah miskin hingga baru menagih, dan sebagainya.

Apapun itu, utang tetaplah utang. Sesuatu yang dipinjam wajib untuk dikembalikan. Bila memang tidak mampu sesuai waktu kesepakatan, katakan maaf dan minta perpanjangan tempo. Guna kebaikan pada diri sendiri dan hubungan silaturahmi.

Tidak punya niat mengembalikan

Ada kemungkinan, mereka yang galak saat ditagih utangnya sebab memang tidak punya niat untuk mengembalikan. Alias berutang itu tidak diiringi niat menghargai kebaikan pada si peminjam. Tidak punya beban dan kewajiban, plus terbiasa menganggap sepele arti sebuah tanggung jawab. Maka dari itu, begitu ditagih merasa tidak bersalah lalu malah marah-marah.

Tidak ada dana

Di sisi lain, sikap galak terjadi karena tidak ada dana. Tepatnya, belum ada uang untuk mengembalikan sejumlah dana yang telah dipinjam.

Tetapi barangkali dibarengi rasa malu untuk mengakui, yang muncul ke permukaan adalah sikap galaknya.

Apalagi saat malunya cukup dominan, sikap galak juga naik berlipat. Mengikuti amarah tanpa berpikir dampak pada sang penagih. Tak heran jika yang tertuang berupa kata-kata kasar dan sikap yang tak bersahabat sama sekali.

Mekanisme pertahanan

Galak menjadi defense mechanism bagi mereka yang ditagih. Bentuk pertahanan yang fungsinya untuk menutup kekurangan dirinya sendiri. Seperti malu, takut, dan khawatir karena belum mengembalikan. Tapi lebih memilih menunjukkan kegalakan guna membungkam si penagih. Lantaran berharap dengan galak, penagih akan takut, kapok, dan tidak mengungkit-ungkit lagi soal pinjaman uang.

Terjebak dalam ego yang tinggi

Seseorang yang galak saat ditagih utang sebenarnya sedang terjebak dalam ego yang tinggi. Khususnya bagi yang merasa menduduki strata sosial tinggi. Menganggap dirinya tak pantas ditagih, walau jelas merupakan kewajibannya. Segala macam bentuk penagihan hanya akan memalukan dan menjatuhkan harga dirinya.

Berani ambil risiko

Perlu disadari pula, bahwa mereka yang lebih galak saat ditagih sebenarnya sudah sadar mengenai sikapnya sendiri. Pada konsekuensi dan risiko setelah nekat mengarahkannya pada penagih. Rela mengobarkan hubungan keluarga atau pertemanan yang telah lama terjamin. Asal tidak perlu mengembalikan utang. Sikap skeptis yang spontan, namun pastinya rugi besar dan karma akan membalasnya. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pixabay.com/ stevepb

Follow Instagram @etalaseserpong