Mengelola Inner Child Agar Tidak Merugikan Diri

76

Belakangan ini istilah inner child cukup menggema. Tidak bisa dianggap sebagai sikap kekanak-kanakan saja, sebab inner child ternyata juga menimbulkan berbagai gangguan hingga dewasa. Sangat penting untuk mengetahui bagaimana cara mengelola dan mengontrolnya.

Psychology Today menerjemahkan inner child sebagai akumulasi berbagai peristiwa baik dan buruk saat anak-anak hingga membentuk kepribadian mereka saat dewasa. Masalahnya, ketika di waktu kecil pernah mengalami luka atau trauma emosional dan tidak diobati, luka tersebut terbawa terus. Kemudian mempengaruhi pikiran, kondisi batin, cara bersikap, dan sebagainya.

Baca juga: Terapi Diri Saat Kehilangan Seseorang

Contohnya kehilangan orang tua, mendapat pola asuh yang buruk, korban pelecehan seksual, ditindas oleh teman-teman atau saudara, korban bencana alam, hingga tidak mendapat lingkungan tumbuh kembang yang memadai. Semuanya mengendap dan berbekas. Tidak menghilang walau usia terus bertambah.

Tak jarang, tanpa disadari, luka inner child di masa lalu membuat seseorang berperilaku menyimpang. Dalam banyak kasus sering terjadi perbuatan yang menyakiti fisik diri sendiri, kesulitan membedakan mana yang serius dan mana yang bercanda, masalah seksual, sulit akrab dengan orang lain, rentan menjadi pelaku kriminal, berlebihan dalam banyak hal, dan kehilangan identitas.

Identifikasi konflik di masa lalu

Identifikasi konflik sangat diperlukan sebelum memulai solusi. Agar menemukan ramuan obat yang pas bagi masalah yang tepat. Begitu pula dalam mengatasi inner child. Memulai dengan mengurai kembali kejadian-kejadian di masa lalu. Apa saja luka yang telah begitu menyakiti hingga membentuk pribadi saat ini. Mungkin tak hanya satu, tapi banyak dan rumit. Namun setidaknya temukan sumber penyebab luka atau trauma yang paling besar.

Mengakui dan menerima

Setelah itu akui dan terima. Memang itu yang terjadi walau sangat pahit untuk mengingat kembali. Fungsinya untuk mengenali pula segala emosi yang turut menyertai. Sedih, marah, menyesal, atau apapun itu. Sehingga di tahap berikutnya akan lebih mudah dilalui.

Baca juga: Contoh Perlakuan Yang Bisa Menjatuhkan Mental Anak

Kapan rasa sensitif datang?

Yakni tahapan untuk mengenali kapan rasa sensitif itu datang? Misalnya merasa kembali trauma ketika berdekatan dengan orang yang wajahnya mirip di masa lalu atau tidak sengaja melihat berita terkait kasus yang pernah dialami. Emosi langsung bergejolak dan merangsang tumbuhnya sikap yang negatif. Bukan tidak mungkin, emosi begitu membuncah hingga tak sadar spontan terarah pada diri sendiri dan orang-orang di sekitar. Dengan demikian, minimal mampu menghindar pemicu sensivitas dan mengurangi risiko yang muncul.

Perhatikan semua suara yang datang

Perhatikan semua suara yang datang. Khususnya dari dalam diri. Tak semuanya akan selalu menyakiti. Apalagi di usia dewasa seharusnya lebih mampu bertahan dan melawan. Coba cerna perlahan dan resapi. Mungkin ada yang perlu didengar dan ada perlu segera dienyahkan.

Baca juga: Kiat Ajari Anak Mengenal Emosi

Self healing

Selain mendapat bantuan dari pakar seperti psikolog, inner child juga dapat dikelola lewat self healing. Salah satunya dengan mengajak bicara langsung via tulisan, mengobrol, meditasi, yoga, dan sebagainya.

Hasil self healing tidak instan. Tapi pasti berdampak bagi bila dilakukan rutin dan terus menerus. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram: @etalaseserpong