Menolong Korban KDRT Saat Pandemi

35
Menolong mereka yang mengalami KDRT.

Diam bukanlah emas saat mengetahui adanya tindakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Apalagi saat pandemi, yang ternyata kasusnya naik signifikan, dan korban merupakan orang terdekat. Akan tetapi, gegabah dalam memberikan pertolongan juga tidak disarankan.

Data dari Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), melalui survei yang diadakan secara online, menunjukkan KDRT terbanyak dalam bentuk kekerasan psikologis dan ekonomi.

Beberapa hal diduga sebagai pemicunya. Di antaranya gaya hidup yang berubah seiring intensitas pertemuan suami istri yang naik. Di mana intensitas yang terlalu sering kerap menimbulkan gesekan. Terlebih masa pandemi yang berpengaruh ke soal penghasilan dan ketahanan finansial keluarga, makin memanaskan suasana yang mungkin saja dalam rumah tangga sebelumnya sudah tidak sehat. Akhirnya terjadi kekerasan pada pasangan dan juga dirasakan oleh anak-anak.

Sebagai info tambahan, korban KDRT dapat membuat tanda khusus. Yakni letakkan salah satu telapak tangan di depan dada, tekuk ibu jari, dan eratkan keempat jari lainnya menutupi ibu jari tadi. Tanda ini telah dikampanyekan secara serentak sebagai peringatan adanya kekerasan. Dapat dilakukan saat pertemuan online atau ketika dalam bahaya tanpa perlu pelaku mengetahuinya.

Percaya dan mendengar

Korban KDRT sangat menginginkan untuk dipercaya dan didengar. Jadi, begitu ada sinyal, tanda, atau keterusterangan langsung darinya, berikan dukungan penuh. Bukan malah menghindar, menyalahkan atau menuduhnya sebagai penyebab KDRT.

Percaya dan mendengar dari kita maupun orang lain tak ubahnya seperti obat yang menenangkan. Korban serasa mendapat teman dan tempat perlindungan. Walau mungkin yang dituju tidak dapat memberikan bantuan lebih jauh dari sebatas hanya mendengarkan.

Jawaban ya dan tidak

Lemparkan pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban “ya” atau “tidak”.

Pertanyaan seperti ini sangat penting untuk beberapa tujuan.

Misalnya untuk memastikan korban mendapat KDRT, untuk mengetahui kondisi saat ini, ingin bantuan atau tidak, dan sebagainya. Juga penting mengingat keterbatasan pertemuan di masa pandemi dan korban terus menerus berada di dekat pelaku.

Bagaimana campur tangan yang benar?

KDRT adalah masalah yang kompleks. Campur tangan dari luar sangat dibutuhkan, tapi salah cara malah mengarahkan korban ke arah yang lebih rumit lagi. Lantas bagaimana yang benar? Anda dapat berkonsultasi dengan pakar atau lembaga yang fokus di bidang ini. Serta tetap menyertakan korban sebagai pihak aktif yang perlu diberitahu sampai sejauh mana bantuan yang diterimanya berjalan.

Informasi mengenai bantuan

 

Berikan informasi yang benar tentang apa saja yang diperlukan bagi korban. Nama lembaga, nomor kontak, cara menghubungi saat pandemi sekarang, jalan keluar, bentuk terapi, dan sebagainya. Tapi ketika mendapati kasus KDRT sudah membahayakan nyawa korban, jangan ragu untuk segera menghubungi pihak keamanan.

Hati-hati

Selama membantu, baiknya Anda hati-hati. Demi keamanan korban maupun diri sendiri. Pelaku KDRT cenderung tidak menyukai ada pihak ketiga dalam rumah tangganya. Ia bisa saja membuat tindakan lebih keras lagi dan di luar dugaan. Salah langkah, korban bisa dituduh sebagai pelaku. Lalu diikuti konflik-konflik lain yang makin keruh dan dalam. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pixabay.com/Tumisu

Follow Instagram @etalaseserpong