Menyiasati Jarak Dengan Anak Karena Tak Serumah

27
Menyiasati pertemuan dengan anak ketika tak lagi bersama.

Tidak serumah dengan anak bukan berarti tak bisa dekat dengannya. Orang tua perlu mengupayakan siasat untuk menjalin relasi layaknya mereka dapat bersama setiap saat. Mengingat pentingnya kehadiran orang tua di masa tumbuh kembang anak.

Banyak alasan mengapa tidak sampai serumah. Terpisahkan oleh jarak karena orang tua bekerja di tempat yang jauh, anak belajar di luar kota dan tinggal di asrama, hingga alasan perceraian. Pada akhirnya intensitas pertemuan terbilang langka, bahkan bukan tidak mungkin sudah terjadi ketika anak masih terlalu dini. Sosok akan orang tua dan perannya bagi anak dapat teralihkan oleh lainnya.

Apalagi ketika momen bertemu ternyata tidak menghasilkan quality time. Ada distraksi yang mengganggu dan cukup dominan. Pertemuan yang seharusnya mengeratkan tidak berhasil mencapai tujuannya. Maka dari itu, saat sedang bersama atau tidak, orang tua perlu mengawali dan terus menjaga kehangatan satu sama lainnya.

Sama persepsi dan alasan

Pertama dimulai dengan menyamakan persepsi maupun alasan, mengapa orang tua dan anak tidak bisa serumah. Khususnya bagi pihak anak, alasan mengapa harus berpisah rumah perlu disebutkan dengan jelas dan sejujurnya. Antisipasi kesalahpahaman anak agar tidak merasa dibuang, dijauhi, dan dikorbankan orang tua untuk hal-hal yang lebih penting. Sehingga anak mau menerima dan memahami kondisi yang ada.

Komunikasi tetap lancar

Jaga komunikasi tetap lancar. Komunikasi yang menjamin orang tua tahu pasti tentang keadaan anaknya. Di sisi lain, anak selalu merasa mendapat perhatian dari orang tua. Terlebih sudah banyak perangkat yang membantu orang tua dan anak bertatap muka secara virtual kapan saja.

Jadwal pertemuan rutin

Buat jadwal pertemuan rutin untuk menggantikan hari-hari tanpa kebersamaan. Misalnya seminggu sekali dan saat anak libur sekolah. Usahakan untuk selalu menepati hari bertemu yang sudah disepakati. Andai orang tua tidak bisa lantaran kesibukan yang tak bisa ditinggal, maka minta anak untuk datang. Sembari mengisinya dengan agenda seru yang membekas dalam relasi keduanya.

Merayakan hari penting

Rayakan setiap hari penting. Ulang tahun, datang bersama di acara keluarga besar, acara di sekolah, mengantarnya lomba, merayakan kemenangan atau kelulusannya, dan sebagainya. Termasuk juga hadir ketika anak sedang sakit, sedih akibat gagal menjadi pemenang atau perlakuan kasar dari teman-temannya. Meski hadir sebentar, akan berdampak besar. Terpenting dalam jangka panjang, menjaga kelanggengan hubungan antara orang tua dan anak.

Memberi kejutan

Sesekali berikan kejutan yang tidak diduga-duga. Mengirimkan hadiah, datang di hari penting tanpa memberi tahu lebih dulu, menjemput di jam pulang sekolah, mengajaknya ke tempat favorit, serta masih banyak lagi. Pastinya akan sangat berkesan sekali bagi anak.

Kesepakatan dalam pola asuh

Di samping itu bangun kesepakatan dalam pola asuh. Dengan anak, juga dengan pengasuh atau anggota keluarga yang menjaganya. Fungsinya untuk menyamakan hal-hal yang boleh, yang dapat ditoleransi, dan yang dilarang sama sekali. Meski ada jarak yang memisahkan, anak dan orang tua tetap berada dalam satu jalur dan tidak terombang-ambing oleh pengaruh yang mampu menjauhkan keduanya. (LAF)

Foto ilustrasi: Pixabay.com/geralt

Follow Instagram @etalaseserpong