ORRI Obladi Oblada Episode 12: Membangun Lingkungan Warga yang Sehat melalui Kepemimpinan yang Tinggi Toleransi

15
ORRI Obladi Oblada episode 12.

Organisasi RT RW Network Indonesia atau ORRI menggelar Obladi Oblada: Obrolan di sana, obrolan di sini episode 12 pada Senin, 6 September 2021. materi yang dibahas seputar seluk beluk kepengurusan RT dan RW dalam mengayomi warganya. Kali ini ORRI mengundang Aji Lubis sebagai pembicara untuk berbagi kisah dan pengalaman dalam memimpin warga. Beliau pernah menjabat sebagai RW dan kini menjadi anggota Dewan Kota di wilayah Jakarta Utara.

 Menjadi RT dan RW yang mampu memimpin dengan adil dan bijaksana memang tidak ada sekolahnya. Seorang RT dan RW yang baru perlu mengadopsi gaya kepemimpinan dari yang terdahulu kemudian dikembangkan lagi dengan menyesuaikan perubahan zaman. Tentu saja perbedaan zaman memerlukan pengelolaan yang berbeda juga.

 RT dan RW wajib juga wajib menelusuri seluruh warganya agar bisa mengetahui jika ada warga yang sedang mengalami musibah dan butuh bantuan warga lain. Bukan hanya kesejahteraan para warga sekitar, seorang rt dan rw juga perlu memerhatikan hidup para sdm atau pengelola lingkungan seperti tukang sapu, tukang sampah, para satpam setempat. sayangnya, pengelolaan uang untuk mereka seringkali terbengkalai apalagi nominal yang diberikan tak selalu sama dan cenderung kecil sekali.

Kepengurusan administrasi negara seperti pembuatan KTP pun ada baiknya dilaksanakan secara tatap muka. selain lebih efisien dan efektif, administrasi tatap muka ini memungkinkan warga dan rt rw nya untuk saling mengenal sehingga rasa kekeluargaan pun mengalir dengan sendirinya. berangkat dari rasa kekeluargaan 

Selain menjamin kesejahteraan seluruh warga dan pengurus, RT dan RW juga bertugas untuk membuat suasana komplek menjadi aman, kondusif, dan toleransi tinggi. Di Indonesia yang penuh keberagaman ini tentunya sebuah komplek perumahan terdiri dari berbagai suku dan agama yang berbeda. Seringkali perbedaan ini menimbulkan pertengkaran antar warga hanya karena salah paham dan minimnya toleransi. Belum lagi ditambah adanya perbedaan usia. Generasi terdahulu dan para muda-mudi biasanya tidak mau kalah ketika sedang berargumentasi. Yang satu merasa sudah cukup lama hidup di dunia dan mengecap asam garam kehidupan, yang satu merasa lebih pintar karena lahir di zaman modern. Salah satu tugas RT dan RW adalah mengayomi seluruh warga dari berbagai kalangan agar tercipta rasa kekeluargaan yang erat.

Menjunjung tinggi toleransi antar warga.

Beliau meminimalkan risiko perselisihan antar warga ketika ada hari hari besar sebagai salah satu kiat menyatukan warga dengan toleransi yang tinggi. Berbagai event nasional mau pun internasional seperti acara 17 Agustus, Hari Ibu dan Tahun Baru. Namun, acara keagamaan tidak pernah diselenggarakan. “Kami tidak pernah menaruh tulisan Selamat Idulfitri, Selamat Natal, Selamat Imlek. Enggak pernah. RW ini kan berdiri untuk masyarakat. Dia harus punya netralitas, jadi itu yang saya jaga. Kami hanya memberikan ucapan kepada yang sifatnya nasional. RW tidak berdiri kepada suatu golongan tertentu,” Ujar Aji. Kegiatan keagamaan pun ditiadakan demi tak menyulut sebuah masalah. Aji mengatakan, di dalam kompleknya terdapat masjid dan komunitas Kristen. RW pun membiarkan masing-masing rumah ibadah untuk menyelenggarakan acara keagamaannya masing-masing. RT dan RW hanya mengelola hal-hal yang bersifat kemasyarakatan. Sebagai RW setempat Aji memilih merayakan hari-hari besar yang tidak berkaitan dengan agama tertentu dengan kegiatan yang bermanfaat seperti jalan sehat. Tak berhenti di situ, beliau juga meminta warga yang memiliki usaha kuliner untuk ikut berkontribusi sebagai tenant konsumsi yang tentunya dibayar oleh RT dan RW demi memeriahkan acara. “Alhamdulillah pak, karena ini justru rakyat kita lebih guyub,” lanjutnya.

Bukan hanya kesejahteraan para warga sekitar, seorang RT dan RW juga perlu memerhatikan hidup para SDM atau pengelola lingkungan seperti tukang sapu, tukang sampah, para satpam setempat. sayangnya, pengelolaan uang untuk mereka seringkali terbengkalai apalagi nominal yang diberikan tak selalu sama dan cenderung kecil sekali.

Menjadi pemimpin yang berintegritas tinggi.

Kepengurusan administrasi negara seperti pembuatan KTP pun ada baiknya dilaksanakan secara tatap muka. selain lebih efisien dan efektif, administrasi tatap muka ini memungkinkan warga dan rt rw nya untuk saling mengenal sehingga rasa kekeluargaan pun mengalir dengan sendirinya. Berangkat dari rasa kekeluargaan lingkungan komplek pun akan kondusif. Generasi muda pun tidak boleh ragu untuk mendaftarkan diri sebagai RT dan RW yang baru. Karena di zaman modern ini dengan perbedaan pandangan antara generasi terdahulu dan yang muda tentunya menciptakan adanya gapdi antara warga setempat.

 “Kalau mau jadi RT atau RW justru saat sedang aktif. Jangan, ya maaf, sudah enggak ada kerjaan, yang pensiun. Karena ketika lagi aktif itu justru dia lebih banyak belajar seperti yang saya alami gitu ya. Memang sekarang ini banyak RT dan RW yang muda-muda bahkan di bawah saya. Sekarang ada yang umurnya 30-an jadi RT. Jadi dia banyak belajar,” Ujar Aji. Beliau sendiri lebih mendukung para muda-mudi untuk mengambil alih kepemimpinan RT dan RW dengan syarat menjadikan kesempatan ini sebagai ruang untuk melayani dan mencari lahan ibadah. “Jangan menjadi lahan penghasilan (Profesi RT dan RW), karena enggak akan nyampe, enggak akan puas,” lanjutnya sembari menutup rangkaian diskusi hari ini.

 

Penulis: Maria Theresia

Foto Ilustrasi: dok. Pribadi ORRI

Foto 1: Pixabay/ geralt

Foto 2: Pixabay/ Goumbik

Follow Instagram: @etalaseserpong