Pemicu Remaja Jadi Agresif Pada Seksualitas

36
Pentingnya pendidikan seksual sejak dini.

Walau tetap miris, berita tentang seks bebas di kalangan remaja terus saja mengejutkan. Namun yang lebih menghenyakkan lagi, ternyata banyak remaja yang menjadi pelaku penyerangan seksual secara agresif. Terpicu oleh beberapa faktor yang kompleks dan berkaitan satu sama lainnya.

Contohnya baru-baru ini, publik geger oleh pengakuan seorang perempuan di Bintaro melalui laman Instagram-nya. Dia diperkosa sesudah diserang lalu diancam oleh remaja laki-laki yang masuk ke rumahnya. Masih segar pula, mayat seorang siswi SMA di Bandung dalam karung. Pelaku ternyata adalah kekasihnya sendiri, yang juga masih SMA, dan melakukan pembunuhan saat melakukan hubungan layaknya suami istri. Atau peristiwa murid SMP di Palembang yang memperkosa gurunya sendiri lalu berlanjut ke aksi pembunuhan.

Siapa yang bisa menduga semua itu dilakukan oleh remaja. Fase yang tak lagi dapat disebut anak-anak, namun belum juga ke tahap dewasa. Dalam ranah hukum, masuk golongan di bawah umur. Tetapi mampu tindakan asusila yang begitu luar biasa.

Kontrol pada emosi

Selain mengalami perubahan hormon yang merangsang ke arah seksual, juga ada perubahan mengenai emosi. Sayangnya mereka belum mudah mengontrolnya. Cenderung memikirkan keinginan saat ini saja, tanpa memperhitungkan dampak di masa mendatang dan pada diri sendiri. Dimulai dari penasaran dengan yang namanya seks, mencoba sekali, ketagihan menjadi seks bebas, dan pada sebagian terdapat dorongan berbuat agresif pada orang lain.

Relasi dengan orang tua

Disamping itu ada korelasi kuat antara orang tua. Kendornya ikatan antara orang tua dan anak diduga menjadi salah satu penyebabnya.

Ada kemungkinan di mana agresif pada seks sebagai pelampiasan emosi yang tak terpenuhi akibat minimnya kehadiran orang tua.

 

Paparan media

Agresif pada seksualitas juga tak terlepas dari paparan media. Contohnya konten dewasa berbau porno di televisi, media sosial, dan situs-situs di internet yang sangat mudah diakses dengan berbagai cara. Mungkin sebentar saja waktu tayangnya, namun sudah mampu membangunkan birahi remaja. Apalagi yang sudah menjadikannya konsumsi sehari-hari tanpa penyaluran yang tepat.

Tidak ada edukasi seks

Serta tidak ada edukasi tentang materi seks. Alasannya bisa bermacam-macam. Dari dianggap tidak penting, tabu, akan tahu dengan sendirinya, dan lain-lain. Pada akhirnya remaja mencoba menemukan jalan sendiri. Beruntung jika menemukan tempat berguru yang tepat. Tetapi kasus remaja sebagai pelaku agresivitas seks adalah contoh gagalnya transfer pengetahuan akan seks di usia mereka.

Kebiasaan dari lingkungan

Mereka juga terpicu oleh kebiasaan dari lingkungan.

Ada contoh yang dilihat, ditiru, dipraktekkan, dan dirasakan langsung.

Dinilai sebagai hal yang biasa, tanpa pernah belajar berempati pada yang bukan kelompoknya. Sehingga nekat melakukan aksi agresif tanpa diliputi rasa bersalah dan penyesalan.

Krisis identitas

Krisis identitas pada diri remaja disebut-sebut juga memiliki sumbangsih. Terutama yang tak menemukan wadah tepat dalam hal akademis serta minat bakat. Ingin mendapat pengakuan, pembuktian, juga penghargaan atau apresiasi dari orang lain maupun sesama remaja kelompoknya. Misalnya menunjukkan fungsi organ seksualnya bekerja dan dapat memaksa orang lain memenuhi hasrat senggamanya. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pixabay.com/RyanMcGuire

Follow Instagram @etalaseserpong