Sarjana Susah Dapat Kerja? Ini Penyebabnya

58
Perbanyak pengalaman sebelum mulai melamar kerja.

Sebenarnya persaingan ketat dalam dunia kerja bukan satu-satunya penyebab sulitnya sarjana dapat kerja. Ada alasan lain yang sering terlupakan. Apa saja? Tepatnya alasan internal atau yang bersumber dari diri sarjana itu sendiri. Di mana tidak mampu menjadi magnet penarik pemburu tenaga kerja.

Juga tidak memenuhi kriteria seperti yang diharapkan dinamika dunia bisnis saat ini. Apalagi persaingan yang ketat semakin tidak memberikan celah untuk bersantai ria. Sedikit kekurangan akan langsung tergeser oleh keunggulan yang dimiliki para pelamar lain.

Almamater kampus kini juga tak dinilai darimana dia lulus. Nama besar universitas tak lagi menjamin. Sama halnya dengan indeks prestasi tinggi tak menjadi garansi sepenuhnya. Ada berbagai pertimbangan dan sejuta skill yang lebih diutamakan. Termasuk mendeteksi loyalitas serta dedikasi. Semata-mata agar perusahaan tak salah merekrut pegawai yang kelak berpotensi  sebagai kutu loncat.

One man show

Salah satunya disebabkan oleh kesan one man show. Sarjana dinilai hanya menguasai satu bidang tapi diprediksi gagal menguasai bidang-bidang lain yang lebih penting. Khususnya bidang yang benar-benar menjadi fokus perusahaan berkutat setiap harinya. Contohnya mahir secara teori, tapi nol besar saat praktek. Semua tahap penyeleksian dapat gugur seketika, biasanya terjadi di tahap akhir, yakni interview. Perusahaan tak lagi melihat apakah dulunya pelamar merupakan bintang kelas. Terpenting bagaimana sekarang kompetensinya saat ini.

Standar gaji langsung tinggi

Pada umumnya pemberian yang tinggi diberikan pada mereka yang sudah mahir dan profesional. Ditambah dengan segudang pengalaman.

Sedang permintaan upah tinggi oleh mereka yang baru lulus dengan minim pengalaman akan dipandang sebagai sesuatu yang aneh.

Karena perusahaan tidak bisa mengukur keuntungan apa yang akan diperoleh dengan memberikan nominal langsung besar.

Media sosial tak menarik

Hati-hati di media sosial. Barangkali semua tahap seleksi sudah dilewati dengan sempurna. Namun ketika HRD mengintip media sosial pelamar, segalanya jadi menguap begitu saja. Lantaran konten di dalamnya terbilang tak sehat. Mulai dari berisi foto-foto tak senonoh, afiliasi politik yang tak santun, gemar menyebar berita bohong, dan sebagainya.

Dan hati-hati bila media sosial tak berisi apa-apa, alias jarang diaktifkan. Hal ini mengesankan pemilik akun kurang optimal menggunakan propertinya.

Komunikasi seadanya

Tahap interview sangat menentukan. Di tahap ini, interaksi dan komunikasi dua pihak akan terjadi. Perwakilan perusahaan akan melihat langsung bagaimana bahasa tubuh, opini, dan segalanya yang datang dari sarjana. Mereka yang berkomunikasi seadanya juga akan mendapat timbal balik seadanya. Tak ada nilai plus, serta ketertarikan yang lebih. Jadi, berikan komunikasi yang cukup namun memenuhi kepuasan dunia profesional.

Pengalaman magang kurang

Selain itu, susahnya mendapat pekerjaan akibat pengalaman magang yang kurang. Atau saat magang tidak menimbulkan kesan positif. Kesan yang membuat malas perusahaan menawarkan posisi karyawan tetap. Biasanya ini dilatarbelakangi oleh ketidakmauan beradaptasi, menyerap nilai-nilai yang sudah diajarkan, tampak asal-asalan, dan tak punya visi. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pixabay.com/Pexels

Follow Instagram @etalaseserpong