Supaya Tidak Jadi Orang Tua Yang Mudah FOMO

63
Mengikuti tren tak selamanya memberikan pengaruh positif.

Berkaca pada orang tua lain sah-sah saja. Tapi jika sudah masuk kategori fear of missing out (FOMO), artinya sudah tidak sehat lagi. Perlu tindakan segera agar sikap FOMO ini tidak terus menerus merugikan diri sendiri maupun anak.

Istilah FOMO pertama kali dikenalkan oleh ilmuwan dari Inggris, Andrew K. Przybylski dan sudah dimuat dalam kamus Oxford sejak 2013 lalu. Dijelaskan sebagai perasaan cemas atau takut akibat ketinggalan sesuatu yang baru. Yang mana bisa dilakukan oleh orang lain, tapi diri sendiri tidak. Untuk itu ada upaya mengikuti supaya dapat seperti yang lain.

Menurut Texas A&M Health Science College of Medicine, gangguan FOMO paling banyak menghinggapi generasi milenial (generasi Y) yang lahir di tahun 1980 dan 1990-an. Tak lain adalah mereka yang sekarang menjadi orang tua baru dan berumur muda.

Baca juga: 5 Hal Penting Yang Perlu Dipersiapkan Orang Tua Untuk Masa Depan Anak

Contohnya sudah banyak sekali. Dari memaksakan diri dan pada anak mengikuti konsumsi orang lain sebagai standar. Misalnya pola asuh yang memaksa dan mengabaikan kondisi keluarga, ikut les tertentu untuk anak, fashion, tempat liburan, sampai peralatan sekolah yang minimal harus sama.

Lihat kebutuhan sendiri dan anak

Karena efeknya yang jelas tidak baik, maka segera hentikan. Lebih baik nikmati saja apa yang ada dan lihat kebutuhan sendiri dan anak. Sebab tidak ada yang namanya orang tua dan keluarga yang sempurna di dunia ini. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Tinggal mengoptimalkan apa yang dipunya. Supaya kebutuhan terpenuhi, harapan tergapai, serta punya rasa puas dan mampu mensyukuri.

Realistis

Dan coba untuk terus realistis. Tanyakan pada diri sendiri, selain apakah yang ingin ditiru dari orang lain memang dibutuhkan, juga apakah bisa mencapainya? Misalnya diukur dari kondisi finansial, manfaat barang tersebut, tujuan jangka panjang, juga visi misi dalam keluarga.

Baca juga: Hak Anak Yang Sering Dilanggar Orang Tua

Fokus pada yang lebih penting

Lalu alihkan perhatian pada yang lain. Terutama fokus pada yang lebih penting. Hal-hal yang seharusnya menjadi prioritas tapi terabaikan gara-gara FOMO. Di antaranya lebih fokus lagi dalam mengembangkan minat dan bakat anak, tanpa perlu membandingkannya dengan potensi anak lain.

Kurangi media sosial

Juga kurangi akses pada media sosial. Lantaran disinyalir, gencarnya penggunaan media sosial kian meningkatkan tingkat keparahan FOMO. Terlebih saat ini media sosial didominasi oleh konten yang mengarah ke ajang berburu gengsi dan pamer aset kepemilikan. Tidak sedikit pula orang tua yang berlomba-lomba memasang kehebatan anak-anaknya. Jika terus terjadi, FOMO-nya orang tua akan sangat memberatkan anak.

Cari lingkaran teman yang lebih sehat

Selain itu, coba cari lingkaran teman yang lebih sehat. Berteman tak hanya untuk status sosial. Bukan melulu tentang materi. Namun sekiranya ada wadah positif untuk saling berbagi dan berkontribusi. Satu sama lain dapat saling menghargai dan mengapreasiasi.

Baca juga: Dampak Terlalu Banyak Melihat Media Sosial

Tetap bangga dan bersyukur

Serta tetap bangga dan bersyukur untuk yang saat ini dipunya. Karena mungkin orang lain terlihat lebih wah, tapi tak ada yang menjamin apakah dia sepenuhnya bahagia atau tidak. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram: @etalaseserpong