Tanda Kencanduan Belanja Online Dan Cara Lepas Darinya

40
Waspada kecanduan belanja online.

Belanja online kini sangat menawarkan kemudahan. Tapi bila  kemudahan ini merangsang seseorang untuk terus melakukannya, alias kecanduan, jelas tak berdampak baik. Kenali tanda-tanda dan cara untuk lepas dari jeratannya.

Studi yang diterbitkan oleh jurnal Comprehensive Psychiatry bahwa dari 122 orang yang mengalami buying shopping disorder (BSD), 34 persen di antaranya menunjukkan gejala ketagihan belanja daring. Ditemukan pula tanda lain, yakni depresi dan rasa cemas berlebihan ikut diderita bagi kalangan BSD. Sementara peneliti dari Hannover Medical School mengusulkan agar gangguan BSD dimasukkan dalam kategori gangguan mental khusus.

Baca juga: Pasangan Gemar Belanja Online? Lakukan Ini

Mengingat ada perilaku-perilaku ekstrem yang sangat penting untuk diwaspadai. Di mana secara umum, pelaku tidak memiliki kontrol atas sikap belanjanya. Cenderung berbelanja tanpa disertai alasan khusus, belanja saat mengalami kemarahan atau frustasi, membeli melebihi kemampuan dan akhirnya barang-barang hanya menumpuk, menyembunyikan kebiasaan belanja online dari orang-orang terdekat, hingga rela menempuh metode pembayaran apa saja asal transaksi sukses.

Ada rasa bahagia tersendiri dapat membeli dan menghabiskan uang. Tapi di sisi lain, usai belanja, penderita juga mengalami cemas, malu, dan rasa bersalah. Sayangnya terus berulang dan kebiasaan tidak bisa dihentikan. Tak sedikit dari euforia belanja online menyebabkan jeratan utang berkepanjangan.

Ada anggaran khusus

Woman reading payment bill

Coba atasi dengan menyediakan anggaran khusus begitu gaji sudah masuk rekening. Nilai maksimal yang hanya boleh dibelanjakan dan tidak lebih dari itu. Tapi ada baiknya dibayar tunai atau memakai transfer langsung. Bukan dengan kartu kredit atau mekanisme pay later. Jika anggaran sudah terpakai, sebisa mungkin tahan diri untuk tidak berbelanja lagi.

Unsubscribe iklan dan e-commerce

Mulai sekarang hapus atau unsubscribe semua iklan dan laman portal belanja. Khususnya yang masuk lewat email dan media sosial. Imbangi juga untuk tidak terlalu sering membuka marketplace. Caranya dengan membuat jadwal tertulis kapan boleh membuka dan kapan tidak. Dengan adanya patokan, kebiasaan untuk menekan tombol checkout juga dapat dikendalikan.

Baca juga: Trik Hemat Dalam Belanja Online

Temukan hobi yang lain

Tanamkan mindset bahwa tidak berbelanja bukan akhir dari segalanya. Apalagi bila selama ini online shopping bukan kebutuhan, tapi tepatnya kebiasaan. Karenanya ganti dengan kebiasaan lain yang lebih sehat. Bagi keuangan, mental, dan bagi orang-orang sekitar. Misalnya rutin berolahraga sebagai pelampiasan emosi. Serta biasakan beres-beres secara berkala. Mungkin dengan menemukan barang-barang yang tak terpakai dapat menyadarkan bahwa sejenak tidak berbelanja itu baik-baik saja.

Menemukan sumbernya

Penting sekali untuk menemukan sumber penyebabnya. Mengapa belanja online begitu membuat ketagihan. Apa pemicu rasa menyenangkan saat melakukan sehingga terus terulang. Barangkali ada korelasinya dengan pengalaman masa lalu, merasa kesepian lalu belanja seolah jadi wujud teman, tidak ingin ketinggalan mode, atau karena apa. Menemukan penyebab yang tepat akan jadi mudah pula menemukan resep obat yang mujarab.

Baca juga: Waspada, Kenali Tanda-Tanda Kesepian

Minta bantuan

Jangan ragu untuk meminta bantuan. Dari lingkaran terdekat untuk terus mengingatkan sekaligus mengawasi. Juga dari pakar profesional untuk mendapat terapi yang lebih memadai. Semakin cepat dilakukan, semakin cepat ketagihan belanja online teratasi. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Freepik

Follow instagram: @etalaseserpong