Terapi Diri Saat Kehilangan Seseorang

13
Mencoba ikhlas dan bersyukur atas segala musibah hidup.

Kehilangan kerap beriringan dengan duka. Terutama bagi orang-orang yang merasakannya. Segalanya jadi tak mudah, menghapus berbagai harapan, dan seolah tak ada lagi kebahagiaan. Walau sadar mesti bangkit kembali, tetap semuanya membutuhkan proses, juga terapi pada diri sendiri.

Khususnya atas kepergian orang terkasih yang tak diduga sama sekali. Atau peristiwa yang begitu mengejutkan. Terjadi mendadak, begitu menghantam, dan lantas sulit untuk mempercayainya begitu saja. Hasilnya tak hanya rasa kehilangan, melainkan juga duka yang mendalam.

Baca juga: Mengenalkan Makna Duka Pada Anak

Dari kacamata teori psikologi, ada lima tahapan bagaimana seseorang bisa melewati rasa dukanya. Dari mengelak atau menolak, muncul amarah, melakukan apa saja agar yang dicintai kembali, timbul depresi, baru terakhir menerima. Akan tetapi tak semua orang menjalaninya secara utuh dan berurutan. Sangat tergantung dari jenis duka, pengalaman, kondisi internal masing-masing, lingkungan, maupun uluran tangan yang diberikan.

Terima dan akui segala rasa

Ada baiknya ketika duka itu datang, jangan mengelak atau menolak. Seperti merasa semua baik-baik saja dan menampakkan diri di depan semua orang terlihat sangat tegar. Hal yang malah memicu toksin bagi diri sendiri.

Lebih, terima dan akui semua rasa yang datang. Sedih, putus asa, merasa ditinggal, khawatir akan kesepian, dan sebagainya. Jika ingin menangis atau berteriak, lakukan saja. Tinggal mencari tempat yang nyaman. Agar sekiranya ini dianggap sebagai pelampiasan emosi, tidak mengganggu orang lain.

Baca juga: Kenali Tanda-Tanda Orang Ingin Bunuh Diri

Kelola emosi atas reaksi dari sekitar

Lalu dari emosi yang dirasa, kelola dengan senyaman mungkin. Apalagi biasanya emosi muncul juga karena terpengaruh reaksi dari orang-orang terdekat. Bila yang terdengar atau perlakuan sangat tidak mendukung, jangan berbuat spontan. Seperti berkata kasar, menganggap diri tidak berharga, dan upaya menyakiti diri sendiri.

Coba ambil waktu untuk sendiri, memejamkan mata, rebahkan badan, membasuh muka, atau opsi lainnya. Kehilangan adalah sesuatu yang tidak bisa kita kontrol. Tapi bagaimana reaksi diri dan emosi sudah seharusnya kita yang menentukan.

Cari sandaran yang benar

Cari sandaran yang benar untuk pelampiasan dan meluapkan emosi. Semacam bantuan dari pihak luar atau beberapa agenda yang telah dipersiapkan sendiri. Contohnya curhat pada sahabat, konsultasi ke psikologi, menjalankan ibadah sesuai keyakinan, berwisata ke tempat yang baru, menulis, membuat lagu, dan sebagainya. Terpenting masih dalam skala positif dan membawa dampak nyata untuk mengurangi duka.

Ambil jeda

Ambil jeda bila memang dibutuhkan. Rehat dari aneka rutinitas harian dan tidak melakukan apa-apa. Beri waktu untuk diri sendiri meresapi peristiwa yang baru terjadi. Mengambil break time dan nikmati saja setiap detik yang dilalui. Tak usah pasang target tertentu. Di masa duka, justru yang diperlukan adalah waktu luang.

Baca juga: Elegan Menghadapi Perselingkuhan Pasangan

Bangkit secara perlahan

Bagaimanapun hidup mesti berlanjut. Duka tak boleh terus menjerat, walau kadang tetap membayangi kapan saja. Pilihan pun terarah pada bangkit dan terus berjuang untuk esok hari yang lebih baik. Tapi lakukan dengan bertahap dan perlahan. Nikmati sukacita baru yang terasa, sembari tetap mengenang mereka yang telah hilang. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram: @etalaseserpong