Tetap Akur Walau Adik Nikah Lebih Dulu

29

Ada stereotip yang dianggap normal dalam masyarakat bahwa kakak mesti nikah terlebih dulu. Namun kadang tak bisa dihindari, ternyata sang adik yang melangkah ke pelaminan lebih awal. Konflik batin terkadang jadi tak terhindarkan.

Terutama kerap melanda kakak dan adik yang sama-sama perempuan. Dilangkahi adik menuju kehidupan pernikahan tak lagi hanya persoalan berdua saja. Kakak akan menjadi sorotan banyak orang, berikut berbagai opini yang menyerang. Misalnya dinilai tidak laku, jodohnya nanti seret, belum lagi adik yang kemungkinan digosipkan macam-macam.

Baca juga: Damai Sentosa Bersama Saudara Ipar

Tak ayal, jadi dilema besar. Menolak dilangkahi, tapi tak bisa dipastikan kapan jodoh datang. Sedangkan menerima harus siap menghadapi reaksi orang-orang sekitar setiap saat. Serba salah, seperti istilah maju kena mundur kena. Juga berpotensi menimbulkan keretakan di antara dua saudara ini. Yang tadinya baik-baik saja, di belakang malah rentan terjadi perang dingin. Alhasil, relasi sebagai saudara dan keluarga kurang harmonis lagi.

Bicara berdua

Ada baiknya, kakak dan adik menyempatkan waktu berbicara hanya berdua saja. Tanpa ada kehadiran orang lain, terkecuali ada pihak yang dimaksudkan sebagai mediator dan diterima posisinya oleh kedua belah pihak.

Bicarakan semua masalah hingga tuntas. Tentang perasaan kakak yang akan dilangkahi, tentang keinginan adik yang sudah siap diajak menikah oleh calon pasangan, tentang kondisi orang tua, tentang bagaimana pandangan masyarakat nanti, tentang adanya kekhawatiran, dan sebagainya.

Semakin banyak yang diulas justru semakin bagus. Apalagi ditambah jalan keluar guna mengantisipasi masalah yang semakin pelik.

Tetap saling mendukung

Apapun keputusan yang sudah disepakati, kakak dan adik mesti tetap saling mendukung. Misalnya saat kakak setuju adik menikah lebih dulu. Maka, adik dapat membantu memberikan penjelasan atau bersikap netral saat ada orang-orang yang bergunjing. Begitu pula sebaliknya maupun setelah pesta pernikahan usai berlangsung. Malah, dukungan di antara keduanya perlu dikencangkan agar kekeluargaan terus baik-baik saja.

Baca juga: Mengapa Kakak Dan Adik Sering Bertengkar?

Bicara dengan orang-orang terdekat

Selanjutnya, dari obrolan kakak adik tadi, ajak orang tua untuk berdiskusi. Pertama, untuk menyampaikan hasil keputusan yang telah disepakati. Kedua, untuk menggalang dukungan bagi kekerabatan dan kebersamaan. Lantaran bila orang tua juga sudah tidak ada masalah, lebih mudah menjaga emosi dan menghadapi berbagai tantangan dari luar. Hidup dalam satu atap pun masih akan terasa nyaman.

Lebih dewasa lagi

Selain itu, baik kakak atau adik, harus bersikap lebih dewasa lagi. Apalagi siap menuju pernikahan menandakan kematangan seseorang. Jangan sampai justru sebaliknya. Pernikahan seharusnya dimaknai sebagai rasa syukur dan babak baru. Bukan persaingan atau kompetisi. Lebih dulu bukan berarti pemenang. Karenanya, sikapi semuanya dengan lapang dada dan jalani hari-hari dengan tetap penuh semangat.

Baca juga: Menjalankan Self Love Dengan Benar

Saling menghargai privasi

Dan yang perlu diingat, penting pula bagi keduanya untuk saling menghargai privasi. Contohnya adik tidak perlu mendesak kakak untuk segera menikah setelah dirinya. Siapa tahu kakak memang belum ingin melangkah ke arah sana. Atau kakak meminta adik untuk segera punya momongan. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow instagram: @etalaseserpong