Toxic Productivity Rentan Terjadi di Masa Pandemi

165
Waspada jeratan toxic productivity.

Membicarakan dampak pandemi memang enggak habis-habis ya? Dari mulai kesehatan hingga roda ekonomi dunia kini sedang berada di ujung tanduk. Tak terkecuali kesehatan mental masyarakat yang pastinya cukup terguncang untuk menerima gaya hidup baru dan  berbagai peraturan baru dari pemerintah guna memutus rantai penyebaran virus.

“Sebelum adanya pandemi ini saja kita kadang bisa tuh terkena dampak toxic productivity. Karena ya semua orang membagikan kegiatan sehari-hari melalui media sosial, tetapi kan nasib orang berbeda. Jadi suka merasa gagal kalua tidak bisa melakukan yang sama seperti teman,” ujar Dina selaku warga Gading Serpong.

Melansir dari thequint.com, salah satu hal yang perlu disoroti di masa pandemi ini adalah toxic productivity. Perilaku yang sudah sejak lama ada tapi booming kembali saat ini bisa sangat membahayakan kesehatan mental jika dibiarkan begitu saja. Toxic productivity adalah sebuah obsesi di mana seseorang merasa harus meningkatkan kualitas diri hanya karena melihat orang lain melalui media sosial. Apa saja tandanya?

Bekerja terlalu berlebihan

Berita tentang roda ekonomi dunia membuat seluruh masyarakat khawatir dan was-was dengan pekerjaannya sendiri. Tak heran sebagian orang merasa harus bekerja lebih maksimal agar tidak terkena PHK serentak atau sekadar untuk menambah pemasukan demi tabungan dana tak terduga. Baik di masa pandemi atau normal, kamu memang harus produktif untuk meningkatkan karier. Tapi kalau sampai membuatmu kehilangan me-time dan jam tidur, sebaiknya mulai kurangi intensitas bekerja untuk menstabilkan kembali kondisi mentalmu.

Merasa paling buruk

Melihat teman yang terlihat baik-baik saja masa pandemi membuatmu gusar? Itu tandanya kamu mulai terjerat jebakan toxic productivity. Hampir semua orang memilih untuk membagikan momen-momen terbaiknya saja di media sosial. Tak terkecuali di masa pandemi seperti ini. Maka, jangan merasa diri sendiri paling buruk dan gagal karena sesungguhnya semua orang memiliki perjuangannya sendiri dalam menjalani hidup.

Mengikuti trend dari media sosial

Berbagai trend mula bermunculan di masa lockdown ini. Dari mulai trend bercocok tanam sampai masak berbagai hidangan unik. Hati-hati! Jika kamu tergiur untuk mengikuti trend yang padahal tidak nyambung dengan passion pribadi, sebaiknya kamu menahan diri. Kamu tidak perlu kok mengikuti semua trend hanya untuk merasa tidak “ketinggalan zaman” dari orang lain.

 

Penulis: Maria Theresia

Foto Ilustrasi: Pixabay/www_slon_pics

Follow instagram @etalaseserpong