Vaksin JE, Vaksin Penting Rekomendasi dari  Dokter Anak

76
Rekomendasi dokter anak untuk vaksin si kecil.

Ada yang baru di dalam rekomendasi vaksin oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) 2020. Salah satunya adalah jadwal pemberian vaksin Japanese enchepalitis (JE). Vaksin penting, tapi sayangnya tak terlalu dikenal.

Sebelumnya dalam rekomendasi 2017, pemberian vaksin JE diberikan ketika anak sudah menginjak usia setahun. Kemudian diulangi pada usia 2-3 tahun. Namun, pada rekomendasi terbaru, tahun 2020, dimajukan pada saat anak sudah 9 bulan. Juga diberi warna beda. Dari yang tadinya berwarna pink untuk menandakan daerah endemis saja, kini diubah menjadi warna biru muda. Berarti primer, atau dengan kata lain wajib.

Baca juga: Perlukah Melakukan Vaksin Influenza Saat Pandemi?

Perubahan ini kemungkinan besar berkorelasi dengan meningkatkan penyakit JE di Indonesia. Pada 2016 lalu ditemukan 326 kasus, dan kabarnya semakin merebak dan menyerang anak-anak. Namun belum ada data yang pasti mengapa penyakit JE bisa meningkat pesat. Padahal dulunya sempat dianggap penyakit endemik yang bisa dikendalikan. Tapi sekarang banyak bermunculan dan dikhawatirkan menjadi ancaman massal.

Apa itu JE?

JE adalah penyakit infeksi virus Japanese enchepalitis yang ditularkan oleh nyamuk. Hasil terbesarnya berupa radang otak pada manusia. Dapat mengenai siapa saja, dari kalangan dewasa sampai anak-anak.

Mayoritas mereka yang terjangkit tidak mengalami gejala tertentu atau tampak sedang flu biasa. Tapi setelah masa inkubasi (4-14 hari usai digigit nyamuk), terasa demam tinggi mendadak, perubahan status mental, sakit kepala disertai gangguan bicara dan berjalan. Pada anak akan mengalami demam, rewel, muntah, diare, dan kejang.

Adapun jenis nyamuk yang menjadi penular bernama Culex tritaeniorhyncus. Nyamuk yang lebih aktif pada malam hari, senang tinggal di daerah persawahan dan irigasi. Populasinya meningkat saat terjadi hujan dan banjir.

Baca juga: Influenza Yang Pernah Menghebohkan Dunia

Bahaya pada anak

JE jelas berbahaya pada anak. Rata-rata mengalami kematian, khususnya bagi anak di bawah umur 10 tahun.

Sedangkan mereka yang bertahan, alias tetap hidup, mengalami sisa-sisa gejala (sekuele) yang mengganggu.

Di antaranya gangguan sistem motorik, gangguan perilaku, gangguan intelektual, dan gangguan fungsi saraf lain.

Bila dijabarkan lebih lanjut, anak dapat menderita kelumpuhan, kebutaan, epilepsi, gerakan abnormal, agresif, emosi tak terkontrol, depresi, gangguan perhatian, dan gangguan pada memori. Jelas merupakan sederet dampak yang sangat mengancam tumbuh kembang mereka.

Belum ada obat

Sampai sekarang penyakit JE belum ada obatnya. Jadi harapan terbesar terletak pada suksesnya vaksin JE yang diberikan pada anak-anak. Sebagai pencegah, pelindung, dan pemutus rantai agar penyakit ini tidak berkembang biak. Terlebih diharap mampu menghilang dalam satu generasi agar tidak menjadi penyakit ‘warisan.’ Para ahli kesehatan juga sangat berharap, orang tua lebih peduli lagi mengenai ancaman peningkatan penyakit JE dan kepatuhan pelaksanaan jadwal vaksin bagi anak-anak mereka.

Baca juga: Sudah Vaksin, Kenapa Protokol Kesehatan Tetap Penting?

Hindari jalur penularan

Di samping itu, hindari media penularan. Tak hanya nyamuk, tapi juga area sawah yang diduga menjadi sumber, peternakan babi, binatang yang dikenal kerap membawa virus mematikan seperti kelelawar dan sebagainya. Jaga selalu kebersihan di rumah dan lingkungan. Sebisa mungkin tidak mendekati area yang telah menjadi endemik. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels, Freepik

Follow instagram: @etalaseserpong