Yuk, Kenali Perbedaan Reseller dan Dropshipper

37

Keinginan untuk berbisnis sudah ada dari lama. Namun, Anda belum berani memulainya karena merasa tak punya cukup dana sebagai modal awal. Untuk mengajukan pinjaman ke bank pun membutuhkan perhitungan yang matang dengan prosedur yang rumit.

Walau begitu, jangan jadikan ketiadaan modal menyurutkan keinginan Anda untuk mulai mengambil langkah berani. Jika Anda belum siap mengeluarkan modal untuk membuat produk Anda sendiri, Anda bisa memulai bisnis dengan menjadi reseller atau dropshipper.

Apa sih reseller? Reseller adalah penjual yang menjual produk orang lain. Anda tak perlu memproduksi barang sendiri, melainkan membelinya dari produsen dengan harga khusus. Lalu, Anda bisa menjual kembali produk tersebut dengan harga yang sudah Anda tentukan. Namun, biasanya produsen akan memberikan range harga agar tidak terjadi perbedaan harga yang signifikan.

Sementara itu, dropshipper adalah pihak yang mempertemukan pembeli dan penjual. Misalnya, Anda menemukan pembeli yang sedang mencari produk A dan Anda mengenal penjual yang menjual produk A. Tugas Anda hanya menyampaikan kepada penjual dan pembeli mengenai ketersediaan barang.

Lalu, apa perbedaan kedua hal di atas? Yuk, pelajari lebih lanjut!

Modal

Dari segi modal, reseller dan dropshipper jelas terlihat berbeda. Reseller tetap harus mengeluarkan sejumlah uang sebagai modal awal untuk membeli barang dari produsen. Setelah itu, reseller baru menjual kembali barang tersebut dengan harga baru. Selisih dari harga beli dan harga jual kembali inilah yang menjadi keuntungan bagi reseller.

Sementara itu, dropshipper tidak perlu mengeluarkan modal uang. Dropshipper hanya membutuhkan ponsel dan kuota internet sebagai modal untuk mencari pembeli dan penjual yang mencari dan menjual barang yang sama. Di beberapa e-commerce, ada fitur dropshipper yang bisa digunakan ketika Anda memang hanya mencarikan barang untuk orang lain. Anda bisa mengaktifkan fitur ini sehingga pengiriman akan langsung dialamatkan ke pembeli.

Anita, yang tinggal di daerah Kencana Loka, merupakan salah satu yang memanfaatkan fitur dropshipper yang disediakan e-commerce. “Saya baru menjajaki bisnis jadi dropshipper ini. Awalnya iseng-iseng saja karena saya sering jualin produk teman ke teman yang lain. Pas masuk ke e-commerce, ternyata bisa ada sistem dropshipper ini. Enaknya karena modalnya ngga langsung dari kita. Tapi, kita tetap dapat keuntungan dari transaksi ini,” ujarnya.

Stok barang

Sebagai reseller, Anda tentu harus menyetok barang terlebih dahulu. Ketika ada pembeli yang mencari barang tersebut, Anda langsung bisa menjual kepada mereka. Sistem ini jauh lebih efektif ketimbang Anda memesan barang hanya ketika ada pesanan. Selain Anda tidak akan mendapatkan harga khusus, Anda juga membuat pembeli menunggu lama.

Keuntungan menjadi reseller, yaitu mendapatkan harga khusus atau harga grosir. Oleh karena itu, reseller biasanya diharuskan membeli dengan jumlah tertentu dan mendapatkan harga yang jauh di bawah harga pasar.

Lain halnya dengan dropshipper yang tidak perlu menyetok barang. Dropshipper hanya perlu punya koneksi produsen yang luas agar dia bisa langsung mencarikan produk yang dicari oleh pembeli dengan harga yang kompetitif.

Keuntungan

Dari segi keuntungan, tentu reseller yang paling mungkin mendapatkan keuntungan yang besar. Reseller mendapatkan harga khusus yang membuatnya bisa mengambil keuntungan dari penjualan tanpa perlu menaikkan harga terlalu tinggi. Sementara itu, dropshipper hanya mendapatkan “komisi” dari jasanya mempertemukan pembeli dan penjual.

Strategi pemasaran

Secara strategi pemasaran, reseller memiliki kekuatan yang lebih besar ketimbang dropshipper karena dia memang menyimpan sejumlah stok. Ketika ada pembeli yang mencari sebuah barang, reseller bisa menginfokan mengenai ketersediaan barang dan informasinya bersifat valid. Sementara itu, dropshipper hanya bisa “memajang” barang yang dijualnya tanpa mengetahui dengan pasti perihal ketersediaan barang tersebut. Oleh karena itu, masa tunggu membeli barang via dropshipper biasanya sedikit lebih lama.

Risiko kerugian

Reseller tentu memiliki risiko kerugian yang lebih besar. Ketika barang stoknya tidak lekas terjual atau bahkan tidak laku, reseller tentu akan mengalami kerugian atau cash flow-nya mandek. Dropshipper tidak memiliki risiko tersebut karena mereka tidak menjual langsung barang dagangannya.

Penulis: Krista Rai

Foto: Jcomp/Freepik

Follow Instagram @etalaseserpong